PRABOWO TAK SANGGUP MEREDAKAN KEKECEWAAN DAERAH-DAERAH ⁉️ - Hermawan Sulistyo (Blak-Blakan #175)

PRABOWO TAK SANGGUP MEREDAKAN KEKECEWAAN DAERAH-DAERAH ⁉️ - Hermawan Sulistyo (Blak-Blakan #175)

2045 TV

ituyanggituiniadaenggakkankalausayaprofjadiapa

201,7 k
views
1,4 k
Likes
32
Dislikes (est.)
0.7 %
👍 / 👁
28:00
Duration
31 août 2026
Published
3,1 k
words
id · auto-generated
Subtitles

Dislikes are an estimate from the Return YouTube Dislike project, since YouTube no longer publishes them. returnyoutubedislike.com

Full transcript

yang ingin dicapai itu pejabatnya bodoh. Itu aja bodoh, tolol, tidak berperi kemanusiaan gitu. Dapat saya R juta, saya bagi ke petugas-petugas yang menjadi korban itu juga gitu. Hm. Ini ini contoh kecil bagaimana ee enggak ada empati sama sekali. Apalagi sekarang nenggok pun juga enggak, cuma nonton di TV. Oh, kita bangsa yang kuat kok itu buntet kan. Eh, ya

salah juga orang-orang di sekeliling. Saya enggak percaya kalau omongannya Prabowo secara normatif ee ya ada harapanlah. Woh, ini itu ini itu ngomong. Tapi data dan situasi itu kenapa enggak keluar sama sekali? Tidak ada asumsi lain selain ditutup informasinya. dulu kampanye dulu itu kan jadi kan kampanye supaya tidak bubar pilihlah saya sebagai presiden gitu

enggak tahunya lebih cepat [tertawa] [musik] Prof ya [tertawa] ini butuh penceraan lagi nih Prof thank you sudah datang Prof ini nih ini yang heboh lagi nih Prof tanggal 17 Agustus kemarin tuh tanggal 15 itu tiba-tiba kok gua curiga nih Prof nih serempak banget nih nih bendera-bendera dari bendera bulan bintang Aceh lah semuanya lah Prof.

A Papua, Papua lah apa bacaannya gimana ini, Prof? Bacaannya dibuat bergolak terbatas. Maksudnya itu selalu begitu. Jadi kita bikin rusuh. He ya tapi dibatasi gitu. He. Persoalan dulu-dulu ya dari zaman Soeharto sampai pasa reformasi. He.

Sebetulnya bukan pasa reformasi karena reformasi belum pernah selesai gitu. Pasca suksesi pergantian presiden itu ee dibuat rusuh tapi ada limitasi gitu. Ada jangan lebih dari inilah. Kalau lebih dari ini berbahaya untuk negara gitu. Gunanya gunanya apa? Heeh. supaya emang pertarungan kekuasaan. Oke. Kalau pada kasus

yang ee banyak kasus itu kalau dibuat rusuh ee atau rusuh sendiri polisi enggak mampu nangani kan tentara masuk. Hm. Kalau polisi ada kerusuhan di mana kayak gitu ee Brimov datang ngatasi selesai ya balik ke markasnya. Hm. Kalau tentara kan enggak rusuh datang pasukan selesai bikin qodim di situ.

Masih nunggu gitu ya sampai stabil gitu ya. Iya. Bikin qodim selamanya seterusnya gitu. Ini kan ada 700 batalion teritorial dibentuk itu ya. Ee itu tidak bisa dilimitasi. kerusuhan itu. Karena begitu rusuh ee ini bukan kasus jalan tambak yang memang skirmis sifatnya kecil.

Oh, yang dengan orang Timur itu ya. Oke. Saya kan sudah meramal jauh-jauh hari. Yang terjadi itu adalah skirmis e letupan kecil-kecil di mana-mana merata gitu. Hm. Dan yang paling menonjol adalah ee di daerah di daerah ee daerah terutama daerah-daerah yang jauh dari pusat kekuasaan yaitu Aceh dan Papua. Papua. Aceh dan Papua gitu. Sehingga kalau mau

bermain-main ya di sana gitu. Ini kan tapi kan ee ini Prof berbarengan dengan 21 tahun ini kan. Nah. Iya. Iya kan? Mo Helsinki kalau enggak salah kan. Iya. Nah, apa negara itu kan simbolnya e bendera. Simbolnya bendera sehingga tentara dok didoktrin bahwa itu simbol negara. Kalau diturunkan negaramu mau di negaramu itu dibubarin tembak. Nah, tapi

itu berlaku di seluruh dunia sebetulnya. H tembak mati yang menurunkan kayak gitu. Nah, tapi kan ada konteks sosial, politik, ekonomi yang berbeda untuk Indonesia gitu loh. Karena sumbernya itu bukan hanya ee perebutan kedaulatan politik, tapi juga ekonomi, ketidakadilan, korupsi sekarang ini. Oh, korupsi kok ee di mana-mana sekarang, kecuali di

podcast 45 aja yang belum gitu kan. [tertawa] Iya. Karena ee apa? bupati-bupati kena lagi semuanya apa saja institusi negara dikorupsi gitu. Betul. Nah, itu menimbulkan ke keres ketidakpuasan ketidakpuasan. Nah, ee ada

aras elit khusus untuk bendera ini. He yang bermain-main dengan itu kedaulatan. Ada aras massa yang memang sudah marah. pada pemerintah. Nah, pada aras massa ya lapisan itu kan tidak bisa membedakan bahwa ini rezim kekuasaan ini negara itu menyatu jadi satu. Oh, berarti ada ee ada politisi lokal juga ini yang bermain juga dong. Iya, jelas. Jelas. Kenapa?

Berarti kalau dari lokal boleh dibilang ini gerakannya organik dong, Prof. Y enggak, belum tentu juga. Karena gini tuh, ini kan situasinya kaotik gitu. Kalau dia lokal, pemain lokal, kalau saya enggak ikut ee tidak dua kaki gitu, he jangan-jangan mereka merdeka beneran. Kalau merdeka beneran saya enggak kebagian, enggak

dapat tempat gitu. Jadi harus dua kaki. Tapi kan nih contoh kita pakai Aceh karena tiap daerah kan beda-beda mungkin ya, Pak. Iya. [mendengus] Contoh Aceh kan gimana secara histori sudah dua kali kalau saya lihat di satu konten tuh dua kali bahwa Aceh itu sudah merasa di apa di PHP oleh pemerintah pusat salah satu yang terakhir tuh yang Helsinki itu.

Nah, udah capek banget kata-katanya literally bilang PPSan kosong gitu loh. Nah, sekarang nih mereka tuh pengin apa benar-benar dari pemerintah Indonesia itu benar-benar memberikan apa yang menjadi kesepakatan bersama lah dari Helsinki itu. Itu normatif yang realitasnya adalah di lapangan ya di ee di tingkat lapangan masyarakat rakyat itu sudah marah ke pemerintah pusat.

Betul. Kenapa marah? He ee rekonstruksi pasca bencana. Nah, itu salah satu itu tidak pernah dinyatakan sebagai ee nasional bencana nasional. Jadi mereka enggak ada uang ke sana. Bahkan bantuan dari luar negeri pun diusir. Dari Malaysia, dari berbagai negara waktu itu kan diusir.

Kita bisa tangani sendiri. Mampus lu. Tangani sendiri. He berlarut-larut sampai sekarang itu ya. Iya. dan korban-korban ee bencana itu yang di ee yang sumbernya memang kelakuan pejabat-pejabat di pusat ditambah lagi tidak ada niat untuk merekonstruksi gitu. Di bawah marah semua. H di atas itu ee ada pemontongan yang signifikan sampai 50% 10 sampai 50% bantuan-bantuan untuk ke daerah dana

desa segala macam transfer daerah dana transfer daerah itu. Iya transfer daerah itu diambil semua alasannya untuk MBG gitu. Oh ini akumulasi juga campur aduk juga nih ya. Ada bara juga di sini. Iya. Nah, kalau di Aceh ke apa di Papua juga sama elitnya kan ee biasalah ee lebih tidak terkontrol gitu ya ee keuangan pemerintah pusat, pemerintah daerahnya juga gitu. Jadi ee ada

liniensi di dalam penggunaan uang itu gitu. Nah, tiba-tiba duit enggak ada lagi sekarang gitu. Marah di atas, marah di bawah, marah. secara massa gitu dan secara simbolik itu muncul dalam bentuk bendera. Tapi kan gini loh, Prof. Bendera ee bulan bintang itu kan di Aceh itu kan sebetulnya kan sudah resmi jadi provinsi di Aceh kan lewat kanun itu loh Perda. Nah, tapi kenapa setiap di Kerk itu kok jadi menimbulkan ada gas air mata lah

apa itu petugasnya enggak tahu pertama ya kalaupun dia ada kanun ini sudah ada perda ini pada Iya. Nah, yang ee kedua ini simbol gitu loh, simbol. Jadi, either ee merah putih atau either bulan bintang. Hm. Bukan or either or itu. Nah, ee saya kebetulan ee apa bisan saya tokoh Aceh.

Iya. Tokoh Aceh, tokoh pertama di Aceh gitu. Jadi ee saya tahu persis kekecewaan-kekecewaan mereka ya. ee bahwa untuk apa kita ikut republik kalau tidak pernah kami menyumbang banyak loh dari Aceh. Betul. Dari zaman kemerdekaan itu disebut. Iya. Nah, ee kok balasannya kayak gini. Menyatakan bencana nasional aja enggak mau. Kami disumbang dari luar negeri ditolak.

Iya. Ya marahlah orang. Prof. Apa sih yang pengin dicapai pemerintah dengan tidak menetapkan menjadi bencana nasional, menolak bantuan asing itu apa kira-kira yang ingin dicapai oleh pemerintah dengan yang ingin dicapai itu pejabatnya bodoh. Itu aja bodoh, tolol, tidak berperi kemanusiaan gitu. Jadi enggak ada yang lain. Kebodohan aja menurut Prof.

Kebodohan dan enggak punya rasa peri kemanusiaan. Coba suruh turun ke Aceh sanalah. He. Suruh jalan-jalan di tengah bencana itu biar tahu rasanya. Kalau enggak rumahnya apa, kampungnya di mana? Misalnya di Jawa, berdoa banyak-banyak ke Tuhan dibanjiri aja Jawa biar tahu dia rasanya menderita itu seperti apa gitu ya. Prof. kan sepertinya paham bahwa ini memang rakyat Aceh kalau kecewa tidak di

tidak menyalahkanlah kan begitu ya, Prof. Iya. Ini beda dengan tsunami. Iya. He 2003 itu 1 tahun saya di sana pulang balik segala macam. Saya masuk ke Malaboh itu hari ketiga. Hari ketiga. Jadi saya tahu persis apa yang terjadi di bawah. Nanti waktu itu saya berkelai di TV sama ee satu pejabat. Nah, kita capek-capek di lapangan enggak ada uang, enggak ada sumber daya apapun bisa membantu mereka.

sedapatnya saya bawa tim medis kerja bakti betul-betul kerja bakti tiba-tiba ngengeng pejabat datang pakai helikopter lihat-lihat nengoknengok nengoknengok jalan lag jalan lag hanya seremonial dan iya iya ketika MS Ka'ban waktu itu Menteri Kehutanan

Iya datang lagi kayak gitu saya ikat helikopternya [tertawa] terus saya minta ini yang kamu datangin ini juga korban. Ini bukan petugas, bukan hanya petugas. Saya tanya, "Kamu petugas apa?" "Pertugas evakuasi, jenazah." Ee kamu ee korban? Iya, anak saya meninggal masih disuruh kerja dan cuman jadi tontonan. Enggak bisa

keluarin semua uangmu di dompet. Saya saya tungguin saya tungguin buka waktu itu dan remnya Girhan Lantara tungguin dia keluarin dapat saya R juta saya bagi ke petugas-petugas yang menjadi korban itu juga gitu. Hm. Ini ini contoh kecil bagaimana ee enggak ada empati sama sekali. Apalagi sekarang nenggok pun juga enggak cuma nonton di TV. Oh, kita bangsa yang kuat kok.

Prof. Saya ini agak miris sih mendengar cerita ya. Ee dibanding misalnya Pak Jokowi dulu kan rajin keliling Nusantara ya, Pak ya. Iya. He Prof. Ya, ini Pak Prabowo kayaknya perlu menambah porsi keliling Nusantaranya nih. Enggak. Kalau saya enggak daripada ke Paris gitu kan enggak perlu itu perlu nambah kuping. Jadi di operasi sininya tambah kuping

tambah kuping gitu supaya dengar apa yang disampaikan gitu loh. Jadi ada empat [tertawa] kuping ada empat kalau perlu 10 kepalanya biar mendengar gitu atau beliau ditutupin oleh sekelilingnya Prof. itu buntet kan ee ya yang salah juga orang-orang di sekel kalau omongannya Prabowo secara normatif

ee ya ada harapanlah woh ini itu ini itu ngomong tapi data dan situasi itu kenapa enggak keluar sama sekali itu tidak ada asumsi lain selain ditutup informasinya berarti menurut Anda itu pidato dengan implementasinya itu beda banget banget dari bumi dan langit nih bukan beda. Enggak nyambung [tertawa] itu apa menteri-menterinya tuh dikasih kuping aja tuh operasi kuping ke biar dengar. Prof. Balik lagi ke politik bendera. Ini sebetulnya yang salah

bendera ini ya atau cara orang memakai bendera itu? Caranya lah gini zaman Gus Dur itu ini problem. Begitu Gus Dur naik eh Papua bergolak [mendengus] Aceh juga bergolak ya. Hanya masalah bendera dikerek kata Gus Dur. Kerek dua-duanya. Oh maksudnya ee ini dulu merah putih dulu. Merah putih

sama ee bintang kejora. He. Kalau ada lain kerek aja. H. Jadi desakralisasi bendera. Oh. I. Bahwa bendera itu bukan lambang negara. Iya. Di desakralisasi. J boleh kerek aja. Lama-lama capeklah ngerek enggak ada dampak politisnya sama sekali. Karena ada merah putihnya, ada bintang kejoranya, ada

bendera lokal setempat. Semua orang suruh bikin bendera gitu. Heeh. Jadi suku-suku itu juga punya bendera masing-masing kayak gitu. Dilakukan oleh Gus Durus. Gus Dur itu desakralisasi dan itu membantu membantu ee apa mestabilisasi. Nah, kenapa sekarang enggak seperti itu ya? lah ke pemimpinnya enggak apa [tertawa] pejabatnya saya enggak mau menyebut

pemimpin pejabatnya enggak pakai otak semua mikirnya cuman mobilnya ganti korupsi apalagi kayak gitu. He ee saya kenal banyak ee pejabat gitu ya. Enggak ada tuh otaknya mengabdi rakyat tuh otaknya cuman bagaimana bikin proyek terus nanti kelompoknya, keluarganya, partainya bisa ikut dalam proyek itu, gitu. Itu yang terbaik gitu. Yang terbaik aja seperti itu.

Mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan golongan gitu ya, Prof. ya. Iya. Mumpung ya, Prof ya. Aji mumpung. mau menjabat itu [tertawa] itu gimana kita mau berharap dan itu jumlahnya di di puncak kekuasaan itu ada 100 orang menteri wamen segala macam. Prof. Prof. Jadi gerakan-gerakan pengibaran bendera

ini kan akan menimbulkan gerakan-gerakan separatis anti terhadap negara kesatuan ya. He. Jadi, tapi ya ada memang kontribusi pemerintah pusat yang kurang memperhatikan lah. He. Karena memang tidak bukan kurang lagi, tidak memperhatikan. Tapi pemerintah pusat merasa sudah melakukan sesuatu yang artinya menurut kapasitas mereka sudah gitu.

Sementara di daerah bilang belum gitu, Bu. Gimana ini, Prof? Lah ee pemerintah mana yang memperhatikan daerah pusat loh ya. Saya bilang wanita enggak ada kok. Enggak ada yang siner melakukan kalau ngomong mah iaki-daki wah ee ini untuk rakyat rakyat mbahmu apa eh [tertawa] mbahmu. Prof. Tapi ini kan ee berbarengan loh,

Prof. di Aceh sama Papua tanggal 15 ini. Ini sebetulnya yang nyetel iramanya itu momentum itu selalu dicari pada hari-hari bersejarah. Oke. Saya ingat 98 ketika kita menaikkan eskalasi suhu politik itu. Heeh. Yang penting orang berkerumun dulu. Kalau berkerumun tinggal nyuntik aja gitu. Jadi kalau ee mahasiswa itu yang

penting ngumpul dulu gitu. He. Nah, ya yang terjadi seperti itu. Kalau 17-an orang pasti ngumpul. Iya. Itu nah celakanya kalau ngumpul di Papua itu terus ditembaki kan itu ditembaki dan itu juga sekali lagi e ketidakmauan dan ketidakmampuan ee orang-orang pusat untuk mengatasi. Contoh nih ya, penggunaan ee kekerasan di Papua ya. Saya heran masa di puncak gunung itu

bisa dapat amunisi? Amunisi dapat dari mana? Itu dari mana? Wah, ini kura-kura dalam perahu ini loh kan tugas kita. Pertanyaan saya, pertanyaan saya siapa di Indonesia yang punya amunisi? Enggak usah senjata lah, amunisinya aja, pelurunya. Siapa yang punya? Siapa? Put. Apakah itu ante-ante asing atau ada intelligent interpen? Londo ireng lah.

[tertawa] Ireng. Jadi sebenarnya dari dalam negeri juga saya kasih tahu ya. Duluan, Bro, waktu tahun ya ee 2000-an awal kayak gitu, He. Satu peluru itu harga HPP-nya tuh R.500. He ya. [mendengus] dijual ke KKB itu Rp35.000. Sekarang satu peluru itu paling mahal

Rp50.000, dijual Rp300.000. Jadi kalau mukanya satu ransel aja diisi peluru naik jual cash selesai. Jadi itu oknum yang jualan, Prof? Lah kalau oknum kalau terus-terusan ya apa namanya, Prof? Tapi jualan peluru itu kan dia cash kan kata Prof. kan itu uangnya dari mana mereka semua? Iya lah banyak dari ee pejabat daerah yang dua kaki.

He. Dengan ee sumber daya SDA, sumber daya alam yang berlimpah. Heeh. Duit banyak. Terus yang terutama dari tambang-tambang itu. Terus yang kedua dari ke sisa tambang taing itu untuk ee apa tambang besar seperti Freeport itu masih banyak emasnya. Masih banyak emasnya. itu kan diilakukan oleh orang-orang dan ditungguin dipalakin gitu setor. Nah, terus yang

ketiga sumber dayanya sumbernya itu dari pejabat-pejabat gitu. Pejabat yang main dua kaki. Lihat aja aliran dana. Lihat aja ini sangat mudah kok. Ada enggak dari luar, Prof? Hah? Dari luar ada? Ada. Ada juga yang ada juga gitu loh. Ada. Jadi konflik kepentingan antara antek asing aktor dalam negeri gitu ya, Prof ya. Iya. Dan Londo Irengnya enggak ngapa ngapain itu.

H ee apa ee tapi tidak bisa kita tunjuk hanya satu. Oh, ini Anda asing aja gitu. Enggak orang sendiri kok yang salah ya orang kita sendiri. Banyak yang main di sini ya berarti banyak yang main. Tapi belakangan ini lebih sering digorifikasi itu adalah ante-anting. Seolah di dalam negeri itu juga enggak ada aktor atau pemainnya ya.

Padahal yang lebih parah yang dari dalam negeri. Dalam negeri ya. Bukan berarti Londo Ireng itu. [tertawa] Iya. Tapi Londo Irengnya bukan bukan ini dong Prof. Bukan pengamat bukan bukan yang dirinya sendiri lah. [tertawa] Prof. Ini sebetulnya disintegrasi kita ini nyata atau enggak, Prof? Cuman karena ketakutan aja nih kita nih. Enggak. Eah. Itu nyata. H

ya. Karena ketidakpuasan ditambah dengan oportunis-oportunis. Orang yang oportunistik dia main dua kaki, nanti kalau lepas dia tetap bisa ikut. Hm. Ini sudah terjadi pada kasus Timor-Timur. Hm. bermain di dua kaki kayak begitu lah. Ee apa kenapa belum terjadi disintegrasi itu?

H kita ini ada 700 kelompok etnik di Papua itu mungkin ada sekitar 304 350 lah ee kelompok etnik. Saya tanya kalau Papua merdeka ee presidennya dari kelompok yang mana? Enggak bisa jawab. Dan itu yang membuat tetap ee kokoh e persatuan itu. Kenapa? Mereka rebutan

sendiri antara orang pantai dan orang gunung. He. Nah, itu kan ketegangannya terasa itu terutama kalau pemilihan gubernur gitu. Hm. Nah, ee ini harus di-manage dengan manajemen konflik sehingga dua-duanya tidak ada yang dominan menguasai gitu. itu ee apa yang disebut konsensual konflik, konflik-konflik yang masih bisa

diintegrasikan karena dari tata nilai, dari nilai-nilai norma sudah enggak bisa. Yang bisa adalah dengan ee represi. Jadi, sudah kalian jangan bertarung. Kalau bertarung tak tembak dua-duanya, gitu. Nah, itu masih ee masih tetapi kalau kekuatan ini rontok disintegrasi kita. Jadi kalau mereka sudah konsensus menganggapanggap deh pemerintah pun start adalah common enemy buat mereka

disintegrasi itu terjadi. Iya. Karena kalau sekarang masih ada misalnya semua ngomongnya bahasa Jawa eh bahasa Indonesia ya. Ya, padahal ada ratusan bahasa di sana. Ee apa orang-orang di Wamena kalau saya jauh-jauh dengan perbatasan Lani Jaya aja udah enggak bisa komunikasi kadang ya karena bahasanya beda. Jadi itu fragmented sekali sangat

terfragmentasi. Lalu mereka kenapa enggak perang perang suku tidak ada instrumen ee pembunuh massal. Nah, peperang suku paling-paling bawa golok. Yang lebih sering bukan golok, panah. Panah ya mereka ke situ ya tembak-tembakan. Nanti kalau mati tukar babi gitu. Denda babi. Oh, jadi iya itu babi ya begitu ya. Iya.

Denda babi dan ee apa nyawa ditukar nyawa gitu, itu enggak akan pernah selesai kayak gitu. Prof. Prof. kan tadi bilang bahwa ancaman disintegrasi ini kan real ya. Heeh. Adis di satu ungkapan Prap Bowo 2030 itu Indonesia bubar katanya. Mau bubarin mana? K dia presiden sekarang ya. Kalau mau bubarin ya begini terus. Apakah yang mewujudkan opini masyarakat

tuh wah Pak Prabowo semakin dekat nih di 2030 apakah beliau kamu yang ngomong bukan [tertawa] opini masyarakat loh Pak Prabowo yang bilang kan ada ramalan 2030 Indonesia bubar Prof tahu kan itu ya versi ini ya buku Ghost itu buku itu dalam bukunya [tertawa] iya dulu kampanye dulu itu kan jadi kan kampanye supaya tidak bubar pilihlah saya sebagai presiden gitu

gitu Enggak tahunya lebih cepat. [tertawa] Kameramen gua aja ketawa. Berapa menit? Pertanyaan saya terakhir nih, Bor. Ini kalau misalnya memang Presiden sudah baca seperti ini, ada irama-irama itu, ada tokoh-tokoh itu, terus kenapa enggak ditindaklanjuti ya, Prof? kok berulang-berulang terus gitu loh. Siapun residennya salah satu ee komponen dalam konflik seperti itu adalah pemain-pemain pusat sendiri.

H terutama orang-orang partai gitu. Jadi ngitungnya tetap kembali kepentingan saya apa, terbantu atau tidak kalau ini konflik ya kalau terbantu dia bikin konflik kan gitu atau dia terlibat dalam konflik. ini yang seringki luput gitu dan kadang mereka ee dapilnya di Aceh kayak gitu ikut setor supaya nanti kalau ini partai nasional kan bukan partai lokal

partai nasional oh bukan lokal itah sebetulnya tidak sulit menelusuri itu kan ada PPATK PPATK dengan mudah bisa melihat aliran danaing ke mana ke mana kayak gitu tapi karena saking banyaknya orang brengs ee di Indonesia ini jadi ruet gitu ya. Saya kira PPATK kerjanya bukan hanya itu. Jadi malaslah dia. H

pusing sendiri dia saking [tertawa] banyak. Pusing sendiri saking banyaknya. Prof, thank you ya. Yeah. Okay. [musik] [musik]

Chapters

  1. 00:00Pengantar
  2. 01:10Pola Konflik Terbatas?
  3. 04:08Simbolisme Bendera & Sentimen Daerah
  4. 06:24Kekecewaan Rakyat Aceh
  5. 08:06Pemotongan Dana Transfer Daerah
  6. 09:07Bendera Daerah vs Merah Putih
  7. 10:29Sikap Pusat terhadap Korban Bencana
  8. 13:14Kepekaan Kepemimpinan Prabowo
  9. 14:36Refleksi Kebijakan Gus Dur
  10. 16:46Kegagalan Pusat Memahami Aspirasi Daerah
  11. 17:46Mengapa Gejolak Menjelang 17 Agustus?
  12. 18:42Dari Mana Pasokan Amunisi?
  13. 20:07Oknum Elit yang Bermain Dua Kaki
  14. 22:03Mengapa Disintegrasi Belum Terjadi?
  15. 25:26Ramalan "Indonesia Bubar 2030"
  16. 26:24Mengapa Konflik Daerah Terus Berulang?
  17. 27:45Penutup

Tags

This video has no tags.

Comments

Comments have not been loaded yet.

← Back to tools