
NADIRSYAH HOSEN: ADA KELOMPOK RADIKAL MERASA PEMILIK SURGA | AF UNCENSORED
ituyangkitainigitusayakannahdantidakdenganjadi
Los «no me gusta» son una estimación del proyecto Return YouTube Dislike, ya que YouTube dejó de publicarlos. returnyoutubedislike.com
jadi ibaratnya itu kalau kata almarhum Kiai Hasyim Muzadi Wali Songo itu bang Akbar sudah bersusah payah menjadikan orang kafir jadi muslim tiba-tiba datang wali-wali zaman sekarang yang sudah muslim jadi kafir [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
em Saya mengundang kolega saya langsung dari Australia seorang e Profesor peneliti pemikir Islam intelektual NU datang ke sini kebetulan lagi ada di Jakarta untuk membicarakan sesuatu yang sejujurnya tidak terlalu populer di banyak bak kalangan banyak orang menyebutnya ini pasti pembicaraan yang berat tidak tidak ada yang meledak-ledak tapi saya memilih untuk
mengangkatnya Akbar Fais anens itu memilih untuk melakukan edukasi seperti ini saya tidak peduli dengan yang namanya subscribe saya tidak peduli dengan follower tetapi harus ada yang membicarakan ini Maka itulah tujuannya Saya mengundang Pak Profesor nadirsah Husein datang ke sini Prof saya sudah membuka percakapan dengan begitu kondisi kita di sini Siap Bang ya Jadi em Saya tertarik dengan banyak pikiran-pikiran anda dan saya rasa bukan
cuman saya banyak orang yang tertarik dengan pikiran-pikiran Eh Pak Prof Nadir yang risikonya kemudian ada yang menyebut anda sebagai e apa impact dari Pilpres kemarin sebagai Cebong Cebong atau apa sih namanya dia kadang dicebongkan kadang dikadrunkan lah itu dia tapi ee sudah kita Tentu saja tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu em Prof saya harus memulai dengan pertanyaan begini dua langsung poin
Terserah anda mau mengulas pada bagian mana Indonesia hari ini dalam kacamatana dengan problem-problem kita hari ini terutama yang bertautan dengan USU agama H itu pada berada pada posisi mana yang lebih jauh lagi pertanyaan kedua yang merupakan kaitan dengan yang pertama tadi Islam di Indonesia hari ini dengan seluruh problem-problemnya itu sedang berada pada fase mana H Apakah perlu kita khawatir atau Ini adalah
sebuah proses yang biasa dalam sebuah negara yang eh sedang belajar untuk berdemokrasi belajar untuk memahami ee perilaku-perilaku sosial H Monggo silakan Prof Terima kasih Bang akbar nih senior saya yang luar biasa baik hati sudah berkenan mengundang saya ini Eh jadi saya teringat ini kalau soal Indonesia ya saya teringat dulu itu Prof Sultan takdir alisabana I ST ah sta itu sempat ngomong begini
ee Yunani telah melahirkan para filosu Oke ee Timur Tengah telah melahirkan para nabi I Indonesia melahirkan apa saya kalau disuruh milih enggak mau saya jadi orang Indonesia kata Prof su gitu ya ya Terus eh waktu saya di di Australia dan Kemudian bertemu dengan para pemikir muslim kelas dunia dari berbagai negara dan mereka mengajukan pertanyaan seperti ini eh Saudi Arabia memiliki eh Ka'bah Ka'bah eh Turki itu memiliki legasi dari
Khilafah Utsmani Mesir memiliki Universitas al-azar universas Islam tertua Indonesia punya apa Jadi saya melihat ada nada-nada pesimisme mengenai Indonesia ke depan gitu ya sementara ketika funding fathers kita mendirikan Indonesia kan enggak punya apa-apa sebetulnya tapi mereka optimis gitu sekarang kita punya banyak hal tapi kenapa kita lebih pesimis dan saya kira pertanyaan dari Bang Akbar
tadi ini eh sangat penting untuk kita akan refleksi lagi Bagaimana sih posisi eh Indonesia ke depan bagaimana pula posisi eh Islam Indonesia ke ke depannya gitu ya nah saya melihat bahwa ada semacam rasa minder bahwa kita orang Indonesia muslim Indonesia dibanding orang Arab kita kalah Islami dibanding orang barat kita kalah modern kita Kalah dua kali gitu ya nah saya ee ingin mengatakan bahwa eh rasa-rasa minder seperti itu itu dan rasa pesimis itu
tidak baik gitu ya Ee justru eh kita harus melihat bahwa Indonesia ini adalah salah satu negeri Islam Apa demokrasi Terbesar gitu ya Di mana kalau kita lihat Arab spring gagal k meng Akbar demokrasi di ee di Libia di Mesir balik lagi ke militer ditaktor segala macam kan Aras dianggap gagal Di Indonesia pemilu kita terlepas dari berbagai kekurangannya tapi alhamdulillah berjalan dengan baik tidak ada perang saudara ya
Eh rotasi kepemimpinan dilakukan dengan sangat baik ee begitu juga contoh kemarin muktaman haratul ulama juga berjalan dengan baik terlepas dari berbagai dinamika yang ada gitu tapi ternyata eh ormas Islam terbesar di Indonesia dan di dunia bisa berdemokrasi dengan sangat baik gitu ya jadi betul banyak sekali hal yang kita kita harus syukuri sebagai bangsa Indonesia ya Ee Bagaimana misal peranan perempuan di di tanah air di Indonesia luar biasa
ee kalau kita ke Timur Tengah jomplang sekali misalnya peranan perempuan di sana dengan di sini begitu pula ee apa namanya ee ee parlemen kita bekerja ya sebagai bekas anggota parlemen lagi-lagi terlepas dari berbagai ee problematika yang ada gitu tapi it gitu di Indonesia jadi saya termasuk yang optimis e lah Makanya pertanyaannya Kenapa kemudian banyak di antara kita sebagian saudara-saudara kita itu tampaknya begitu
Ingin atau menyerahkan diri atau berkiblat secara Totally pada eh apa yang terjadi di kawasan Arab sana yang ternyata gagal saya saya tidak ragu-ragu mengatakan Arab adal sebuah kegagalan yang luar biasa dan luka mereka kan bangsa-bangsa itu hancur tapi kenapa sebagian dari kita itu kok Seperti apa ya tidak belajar dari itu Iya jadi ada memang sebagian dari kita saudara-saudara kita itu yang memang selalu ingin kembali ke masa lalu oke ya
tidak bisa move on hidupnya ada ada yang ingin kembali ke masa Orde Baru enak zaman toh kan gitu Ada yang ingin kembali ke zaman Khilafah Zan dulu gitu ya ya Ada yang ingin kembali ke mantannya gitu Padahal kita tahu tidak ada Mantan Terindah Bang kalau dia mantan terindah sudah jadi manten gitu gitu kan Oke nah ini eh ini salah sendiri karena mengundang orang jadi banyakonnya nah jadi eh eh karena karena orientasinya ke belakang selalu sehingga
selalu membandingkan kejayaan Islam zaman dulu dengan kondisi sekarang Nah akhirnya ee muncul perasaan bahwa di level internasional Islam kalah secara politik ekonomi sosial budaya he di level nasional juga seperti itu perasaan Islam teraniaya terancam gitu ya dan perasaan-perasaan sebagai orang yang Marginal ee sebagai orang-orang yang tertindas Ini lambat laun gitu bisa melahirkan energi yang luar biasa gitu yang bisa liar tak terkendali Oke gitu
Nah karena itu memang ee tugas kita memang saya kira mencerdaskan publik gitu ya ee e Andai mereka pikniknya lebih jauh gitu mereka akan lihat Betapa beruntungnya kita sebetulnya di Indonesia Iya I EE kehidupan beragama kita gitu ya Eh misalnya timur tengah itu Saudi Arabia lah contohnya ya ini kan sudah mulai moderat nih Saudi Arabia mengagetkan sebenarnya I tetapi ternyata moderatnya itu adalah dengan membuka
fashion show ya konser musik bioskop perempuan boleh nyetiros hal-hal yang di kita sudah selesai I itu selesai tapi kemudian Sekar dipersoalkan kembali oleh sebagian kita gitu ya sehingga mereka joknya itu kan lebih Arab dari Arab gitu akhirnya gitu ya Nah ini yang yang saya saya lihat bahwa Bagaimana sekarang kita mengelola perasaan tertekan perasaan Islam kalah di mana-mana kita menjadi bangsa yang kalah guu perasaan orang Indonesia itu
juga kalah di mana-mana ya bola pun kalah kemarin begitu kan Nah itu saya masih dongkol soal itu itu yang itu yang saya kira jadi jadi jadi masalah bang jadi masalah bang kita ke depannya Indonesia yang ke depannya itu penuh dengan amarah penuh dengan perasaan kalah gitu ya Sehingga salurannya adalah mimbar-mimbar eh khutbah menjadi kompensasi penyaluran di sanalah mereka bisa berteriak-teriak dengan marah bisa mencaci kanan kiri ee
bisa memaki bisa bisa juga dimsoh selain di mimbar-mimbar Bagaimana rasa kekalan dan itu tumpah ruah di sana gitu nah ini yang saya kira ee menjadi persoalan kita bersama Nah makanya ee Seharusnya kan e kita menjadi sedikit lebih awas ee memahami situasi ini atas nama teknologi kan karena kita bisa melihat hari ini ada bom ledak di di ramalla di Palestina pada menit berikutnya kita
bisa tahu kan Gitu Ee hari ini basar Asad mencederai rakyatnya atas nama kekuasaannya pada menit berikutnya kita bisa tahu di sini H Hari ini kita bisa melihat bagaimana kacaunya perekonomian di Libya sana di Irak sana atas apa yang mereka lakukan di masa lalu tidak jauh dari dari hari ini sebenarnya kita bisa langsung tahu kenapa kita tidak belajar dari situ Prof karena kesana itu terlalu jauh itu enggak ada di kita yang m yang mereka
mereka lihat gitu ya itu tadi karena pandangan wawasannya hanya melihat persalan jadi jadi kan begini orang kalau kalau Merasa punya masalah gitu yang dia bandingkan kan tetangganya dia enggak akan bandingkan orang-orang jauh gitu dia akan bandingkan sekitarnya lingkungan masyarakatnya sekitarnya gitu ya Eh sehingga sehingga kemudian eh dia lebih lebih senang melihat kekurangan ketimbang melihat hal-hal yang patut kita syukuri gitu ya Nah dan
dan medsos kita memang penuh dengan rintihan penuh dengan eh nestapa gitu ya penuh juga dengan cacian Dengan apa gitu nah ini ini berita-berita buruk yang lebih sering kita dengar gitu dan ini jadi jadi jadi problem e Saya kira gitu jadi seperti misal tadi Eh pertandingan bola saja gitu sebelum lag kedua saja betapa banyak orang eh pesimis Indonesia bisa menang meskipun terbukti memang tidak bisa menang begitu ya tetapi tetapi perjuangannya gitu itu
tidak diappreciate gitu ya kita tidak diapresiasi tidak apa jadi jadi sebetul sebulnya ee ada persoalan besar di e n problemnya begini Prof dari apa yang kita bicarakan tadi itu Kita kan hanya menyimpulkan apa yang sudah terjadi dan kita perdebatkan beberapa tahun terakhir ada beberapa kajian yang mengatakan ini dimulai pada tahun 2017 ketika Pilgup di Jakarta yang ditulis oleh Mister dengan e bunudin Muhtadi kan di karya bukunya itu Tapi sebenarnya saya ingin bersaksi
itu lebih dulu sebelum itu 2014 sudah terjadi karena saya adalah saksi mata waktu itu saya bersama dengan Pak Jokowi dalam P pemain saksi mata Iya nah kemudian dampaknya adalah kemudian kita sebagai sebuah bangsa luka coba tampilkan beberapa catatan tentang e apa luka-luka itu tadi ini peristiwa penelanggaran kebebasan beragama berkeyakinan ini kan dampak dari itu kan iya ya Coba lihat eh pada tahun 2020 2021 belum keluar
hasilnya Prof 2020 itu ini menurut setara Institut ada 180 peristiwa ya kan kemudian ada 424 tindakan jadi e melonjak selanjutnya ini aktor pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan H ini lebih lebih jauh lagi nih ternyata nih ada 185 ee itu adalah tindakan nonnegara tindakan negara 239 parah kita loh bahkan negara pun juga sudah terlibat dari problem ini H ini menurut setara
Institut gitu ya Nah ini jenis tindakan aktor negara penelenggaran kebiasan beragama dan berkeyakinan diskriminasi 71 kasus penangkapan 21 pentersangkaan penududan agama 20 pelarangan kegiatan dan seterusnya dan seterusnya yang saya ingin katakan adalah karena yang hal-hal yang tadi yang ternyata itu tidak selesai-selesai di kita maka kemudian berdampak ke sini Betul betul I kan I lah kita kan tidak bisa membiarkan begini salah satu
kegiatan acara ini adalah Apa ya Mencoba menghindarkan seperti ini melalui edukasi-edukasi dengan ee apa namanya itu itu platform e komunikasi modern bernama YouTube ini kan tapi dalam kembali pada kajian seorang akademisi seperti anda Kita Luka loh Prof I apa yang ini anda katakan iya jadi eh Pilkada DKI tadi yang disebut Ya misalnya itu ternyata kalau buat saya itu ternyata eh membuka kedok kita bahwa ternyata
relasi antara muslim dengan nonmuslim belum selesai belum selesai yang kita anggap sudah Seles di masa orde baru dianggap selesai begitu Ee Kenapa dianggap selesai karena pendekatannya adalah pendekatan security keamanan Jadi kalau tidak ada kegaduhan di publik dianggap tidak ada persoalan seperti kemudian kita membersihkan ruangan ini dengan menaruh kotoran-kotoran di balik karpet Oke begitu kan kalau dia tidak muncul di
permukaan maka dia bersih gitu padahal itu terus menggunung semua sehingga akumulasi itu muncul di DKI Tapi Bang Akbar juga benar bahwa di 2014 sebelumnya bendi-bendi itu juga sudah muncul sudah terjadiadi Walaupun mungkin saat itu pengguna Metos belum semasif 2017 begitu kan Ya nah nah karena pendekatan keamanan yang dilakukan dan itu masih dipakai pekatan itu sampai sekarang P keamanan itu jadi ketika melihat angka-angka ini
misalnya yang dilakukan oleh oleh pemerintah adalah selama tidak terjadi keributan selama tidak terjadi an yang meluas maka angka-angka ini adalah dia just numbers dia hanya sebatas angka Dit tooleransi I sebatas angka saja gitu misalnya contoh ketika masjid Ahmadiyah nah ini tambahan data nih n ya oke misalnya ketika masjid Ahmadiyah atau penganut syiah di Sampang ya atau masid ahadah di kota lain misalnya itu diserang polisi yang seharusnya melarang
penyerangan melindungi masjid Ahmadiyah atau kelompok monitas lainnya misalnya itu malah hanya berjaga-jaga agar kerusuhan itu terisolir tidak meluas dan dan mereka tidak bunuh-bunuhan Walaupun walaupun masjidnya menjadi rusak hakhak beragamanya menjadi tidak bebas gitu ya berkeyakinan tidak bisa ee dilakukan secara bebas terjadi perang batu terjadi perusakaan segala macam itu dicatat di sini di angka-angka itu tadi tapi dalam
perkaatan keamanan adalah loh sudah kita isolir Iya biasa saja kok biasa saja tidak meluas dan segala macam nah pendekatan keaman ini yang jadi masalah saya sama dengan pendekatan bahwa ini adalah politik seperti kasus pilkara DKI dianggap Ini adalah sebuah pertarungan politik yang sudah selesai dengan kemenangan e Anis misalnya tapi lukanya kan belum selesai luka yang ditimbulkan dari bahwa ternyata ada ada persoalan relasi Islam dengan nonmuslim belum
selesai Bagaimana seorang nonmuslim yang membayar pajak yang sama Gitu Ee dan punya KTP tapi tidak boleh menjadi pejabat publik Oke gitu dengan almaida 51 itu misalnya dan dan itu jadi jadi persoalan pjang gitu Nah karena itu menurut saya eh pemerintah juga harus mengubah Ee pendekatannya tidak lagi dengan pendekatan semata-mata keamanan ataupun pendekatan ee e politik tapi memang harus dengan pendekatan budaya sosial
budaya nah ini butuh panjang memang bagaimana kita mengakui ada kotoran di bawah karpet yang selama ini kita hanya singkirkan agar tidak terlihat Bagaimana kemudian kita mengakui bahwa kita harus menggulung karpet itu ya Eh dan samasama mencoba bekerja sama membersihkan kotoran-kotoran itu itu kan butuh strategi kebudayaan sebetulnya dan ini yang saya kira eh Butuh waktu lama dan EE dan belum dilakukan dengan baik saya
Jujur saja sebenarnya mau mencoba untuk mendebat anda tentang butuh butuh waktu lama kemudian melalui mekanisme atau pendekatan kebudayaan H Terus selama ini Kita bikin apa sebenarnya Nah itu itu dia ini ini kok semakin mengeras I contoh contoh contoh kasus ya kenapa sekarang kita begitu Gampang tersinggung Hm tersinggung secara komunal ya yang kemudian ujungnya adalah melapor H yang membuat Presiden harus
apa namanya itu menegur Kapolri atau memberitahu Kapolri jangan terlalu cepat memproses Lawang masyarakatnya sendiri kok begitu cepat marah begitu cepat tersinggung ini kan dampak dari sini H sementara ada problem lain yang lebih besar yang harus kita hadapi bernama teknologi Bagaimana pertumbuhan ee apa namanya itu masyarakat pada pada sektor yang lain ini mengkhawatirkan loh Prof Mbak ee berikan kami sedikit catatan kritis tentang ini H jadi Ee kita memang
ee dem demokrasi kita kan masih dalam tahap kita belajar buat jadi dewasa Oke gitu ya Jadi kalau dulu itu awal-awal reformasi semuanya itu dengan kekuatan massa demonstrasi dengan segala macam Kayaknya sampai sekarang masih Iya artinya masih ada yang belum lulus kan begitu belajar tapi terus sekarang sudah mulai sudah mulai bergeser bahwa mereka percaya dengan mekanisme hukum Oke ketimbang kemudian ada kekerasan di lapangan mereka lapor kalau misalnya E
Bang Akbar tersinggung dengan saya daripada saya ditempeleng oleh bank Akbar lapor aja lapor saja Ah sehingga sehingga kalau kita bilang kok sedikit-sedikit lapor loh pilihannya daripada kamu Kamu saya tempeleng H ah mendingan saya lapor polisi oke nah dari sudut itu positif sebetulnya ada pelajaran meningkat dari demokrasi mulai percaya pada mekanisme hukum ya yang dulu orang merasa bahwa ah semua bisa dibeli hukum itu sekarang orang bilang
mau ke mana lagi kalau tidak ke ke hukum I iya I sesuatu yang positif Sebenarnya ada positifnya tetapi Tapi itu kan koma itu iya koma dan tidak bisa puas di situ begitu kan sampai kemudian nanti kita ee berada pada taraf ya kenapa kenapa harus tersinggung seperti kata Bang Akbar tadi jangan-jangan kalau kita tersinggung itu gara-gara kita memandang diri kita terlalu tinggi orang lain memandang kita biasa saja kan gituan Ya kan gitu ya Nah ee tapi sampai pada taraf itu itu memang
itu tadi saya bilang butuh lama but butuh strategi kebudayaan Gitu Ee untuk orang misalnya di dicaci maki dan dan cukup bisa diam dan berlalu atau kalau orang mencaci maki saya di di medsos e pilihannya adalah Saya mau tanggapi ikut ikut caciaki balik eh atau saya diamkan saja salah gitu nah saya diamkan Kenapa karena ternyata saya berprinsip jangan-jangan saya bisa masuk surga gara-gara Tiap hari saya dicaci maki disos itu bisa bisa mengurangi
dosa-dosa saya kan begitu nah nah cara-cara begitu kan Akhirnya sudah lewat saja Padahal kalau mau diikuti yang mencaci maki di mesos itu tiap jam luar biasa makanya saya coba mencoba mengaitkan dengan awal pembahasan kita tadi he Saya mau mengajukan pertanyaan begini sebenarnya ini yang kita perdebatkan atau kita persoalkan yang kemudian menjadi menjadi Apa bahan bahan bakar utama dari problem-problem sosial yang muncul di kita ini ini soal agama
atau soal politik atau apa gitu loh H ya jadi jadi ee uniknya di Indonesia itu kan tidak ada satu persoalan yang yang bisa kita sesaikan dengan tuntas tadi itu kan Iya dan dan semua persoalan menjadi sangat sangat complicated compleks gitu ya seperti misalnya eh Katakanlah isu radikal radikalisme ya Ee di periode kedua Pak Jokowi itu kan ramai mau mau menghantam kelompok radikal kelompok radikal tapi jadi kebingungan yang disebut Put radikal itu
apa gitu apakah yang radikal itu adalah orang yang pakai telana cingkrang kemudian jenggotan pakai cadar atau jidatnya hitam gitu ya Eh apa itu disebut radikal gitu nah eh ada menteri yang mengatakan itu misalnya gitu sebelumnya Iya m sebelumnya misalnya gitu kan misalnya nah eh eh akhirnya menjadi persoalan nah saya saya saat itu mencoba memberikan Penjelasan bahwa yang disebut radikal itu Eh ada tiga yang pertama itu adalah kelompok takfiri
yaitu orang yang gemar mengkafirkan orang lain ya yang berbeda dengan dia adalah kafir kafir gitu jadi ibaratnya itu kalau kata almarhum Kiai Hasyim Muzadi Wali Songo itu bang Akbar sudah bersusah payah menjadikan orang kafir jadi muslim tiba-tiba datang wali-wali zaman sekarang yang sudah muslim jadi kafir balik lagi gitu kan soalnya gitu nah ini kembali ke titik nol itu kembali titik nol gitu Padahal yang Wali Songong sudah capek-capek dulu mengislamkan kita
OK kita sear Islam dikafirkan lagiitu atau diskusi dikit disos ditanya Apakah anda muslim begitu kan sehingga sempat muncul di metsos kemarin itu kan Apakah anda muslim kemudian kita tanya balik Apakah anda petugas sensus gitu kan misalnya gitu nah jadi orang Gampang sekali Nah ini ini beni-beni takfiri ini kelompok radikal dalam keyakinan Oke Dia mungkin penampilannya tidak radikal gitu tapi dia radikal dalam keyakinan tadi menganggap diri dia paling benar dia
pemilik surga yang kedua itu adalah kelompok radikal kelanjutan nya ada yang orang Cukup sampai di situ ada yang lanjutannya karena Bang Akbar itu kafir dinyatakan kafir maka halal darahnya Boleh saya bunuh nah ini sudah radikal yang dalam bentuk tindakan Karena dia sudah eh mau membunuh menghilangkannyaya orang lain dan ini banyak ya dan tidak bisa didiamkan nah yang ketiga adalah radikal dalam bentuk ideologi itu mau mengubah dasar negara
e Nah itu itu batasan yang saya berikan Jadi bukan dalam bentuk yang karikaturis gitu ya seakan-akan yang tadi itu yang Pakaiannya yang hanya karena celana cingkrang karena apa segala macam gitu eh dengan batasan seperti itu maka jadi jelas nah problemnya adalah pemerintah ketika menangani kelompok radikal itu menganggap ini bukan pertarungan ideologi tapi pertarungan politik yang kalau menjelang Pilkada atau Pilpres bisa kita rangkul kembali itu dia Mas
jadi problem elektorat gitu kan jadiadi persoalan elektoral elektoral meninggalkan substansi yang sejak dari awal capek-capek kita berdebatkan gitu ya Betul gitu eh akhirnya yang yang yang pernah terjadi di lapangan di medsos di lapangan Banser apel kebangsaan di medsos kita berdiskusi berdebat sampai capek eh ternyata pejabat menerima kelompok-kelompok itu cipika-cipiki misalnya nah atau mereka sudah dinyatakan tersangka tapi enggak pernah
ada proses berikutnya Oke misalnya di belakang lir diselesaikan di apa segala macam gitu atau ternyata Kodam atau poldamana ternyata mengundang mereka para penceramah itu misalnya gitu Nah bukan hanya sekedar merangkul tapi malah menyediakan panggung-panggung untuk untuk mereka gitu nah ini saya kira jadi jadi karena pendekatannya pendekatan politik tadi itu nah jadi jadi negara kelihatan menjadi ragu salah
satu faktornya adalah faktorektoralor Mis dikat bersikap tegas di tingkat daerah mereka koalisi karena didaerah tertentu tidak bisa memenangkan Pilkada kalau tidak berkoalisi dengan kelompok perusak kelompok nah nah ini jadi jadi problem kita akhirnya ee sudah politik problem elektoral dan di sebagian pihak ini juga dianggap sebuah proyek begitu kan proyek deradikalisasi itu besar bang gitu nah ini ini ini jadi
jadi jadi panjang urusan-urusannya gitu nah eh kemudian juga ada apa yang di eh disebut sebagai eh apa namanya eh kalkulasi-kalkulasi gitu ya kalkulasi-kalkulasi Eh untuk jualan emosi umat Seperti apa itu Ya misalnya Eh ada radikal kanan radikal kiri ada radikal Tengah radikal yang merasa paling NKRI paling bineka tunggal Ik gitu ya ultranasionalisme nah ini yang
berbahaya gitu ya tidak suka dengan asing ee gitu kan tapi suka dengan Aseng misalnya begitu kan Nah atau balikan tidak suka ada juga tidak suka aseng-aseng begitu nah ini eh eh ultranasionalism ini yang yang kemudian juga juga menjadi radikal dan ini problem juga ini problem juga saya gitu nah terus eh ada lagi yang kemudian memainkan jualan emosi umat ya Misalnya kena tahu ingin menggolkan satu program Atu apa satu rancangan undang-undang
atau apa tidak bisa didukung kecuali memainkan isu radikalisme dibuatlah misalnya KPK ada Taliban misalnya terus ada dibuat tes wawasan kebangsaan yang bertanya pilih agama atau pilih Pancasila pertanyaan saja sudah salah itu kan seakarakan mempertentangkan agama dengan Pancasila atau bisa baca doa quut atau tidak Dan Seterusnya gitu kan Nah ini yang juga menurut saya harus kita akui jadi persoalan gitu saya masuk orang yang EE berdiri eh melawan gerakan
radikalisme mengubah ideologi negara saya bikin buku Islamy sila fahno saya melawan teman-teman Hizbut Tahrir dengan program khilafahnya yang mau menggoba Pancasila da 45 tapi saya menolak politisasi isu radikalisme terhadap KPK misalnya gitu Saya tidak percaya ada Taliban di sana orang ternyata dari yang apa sejumlah eh yang Nyatakan tidak lulus twk itu ternyata banyak juga nonmuslim bahkan kalau memang mereka Taliban kok diangkat oleh Polri sekarang
sebagian lagi dari mereka gitu kan Nah isu politisasi agama yang dimainkan ke 12 pihak ini ya yang menjadi persoal semakin Kompleks tadi akhirnya lantas Siapa yang harus memberikan sebuah garis batas tentang Apakah seseorang melewati pagar atau tidak pada konteks seperti itu seharusnya kan negara harusnya negara tapi nah tapi masalahnya yang disebut negara itu sekarang siapa sih Bang seluruh apa lembaga-lembaga Negara yang
mendapat mandat dari konstitusi tadi Nah itu yang saya saya itu yang itu yang jadi masalah kan begitu ketika kemudian presiden misalnya menyatakan tegas representasi negara tapi kemudian ada menteri representansi negara juga yang kemudian mengakomodir atau bertemu dengan pihak-pihak itu misalnya Ah terus menteri a bilang ee ee harus tegas menteri B bilang loh ini kan juga bangsa kita sendiri mau
merangkul segala macam jadi yang disebut negara yang mana akhirnya gitu Kodam yang mengundang tadi Eh Apakah kemudian itu bukan bagi Dar negara misalnya atau misalnya asnasn terlibat Katakanlah sekarang Hizbut Tahrir yang dan FPI yang sudah di hizbahir dibubarkan FPI tidak diperpanjang izinnya pertanyaannya anggota-anggota mereka mau dikemanakan Oke menarik nah kita tidak mau seperti Orde Baru ketika mereka ketika PKI ya
anak cucu dipki kan gak jelas gitu ya sehingga disebut Guilt by Association gitu bahkan tetangganya saja pun juga kena gitu kan Ya karena itu ada litsus dulu kan kita kan tidak mau juga seperti itu di masa reformasi di masa demokrasi itu tapi pada saat yang sama pemerintah merasa tugasnya selesai ketika sudah membubarkan sesai tapi mereka dibiarkan ke mana-mana tidak dibina lagi dan kemudian menjadi api dalam sekam api dalam sekam mereka
tinggal berganti kulit dan kegiatan masih di mana-mana buletin Jumatnya masih ada di mana-mana mereka ustaz-ustaznya masih berkeliaran asn-nya masih ada yang ini nah ini ini gimana sebetulnya Ee Kita meletakkan posisi negara gitu kan menjadi agak sulit bagi saya untuk eh bersikap pada poin ini Se karena seperti yang kita tahu bahwa kalau ternyata ujung-ujungnya adalah problem elektoral maka kita tidak akan bisa keluar dari dari siklus yang
membingungkan ini tidak akan bisa keluar dari problem menahun ini so gimana from bagaimana kita harus menyelesaikannya Nah jadi kalau menurut saya kembalik lagi kepada tadi strategi kebudayaan oke ya dan memang ini butuh waktu waktu Kenapa karena kan sudah dibiarkan sekian lama persalan-palan ini tadi kita sudah bahas yang di baw karpet pers-alan tidak belum selesai ya Ada kalkulasi-kalkulasi politik problem elektoral segala macam ini memang memang harus ini saya kasih
contoh strategi kebudayaan jadi ada film animasi ya yang katanya dibuat oleh eh para pendukung HTI ada nusa dan Tara misalnya nah kita ban Dilarang tidak boleh tidak boleh beredar di bioskop segala macam begitu kan tapi di YouTube orang masih bisa nonton bisa segala macam begitu kan melarang Mereka itu satu hal gitu kan tetapi ee orang akan tetap cari apalagi karena ternyata film serinya bagus oke nah nah yang kita bisa lakukan
strategi kebudayaan adalah kita buat film-film serupa yang lebih baik Saya dengar anda punya material untuk itu kenapa belum dibikin I nah jadi kita punya buku Islamnya silafano saya buat cerita tentang sejarah Khilafah masa lalu yang baik dan yang buruk kita ceritakan dengan Tuntas di sana sementara kelompok pejuang Khilafah itu kan hanya cerita yang baik-baik tentang Khilafah ah sementara kalau buku saya itu apa adanya jadikan cermin sejarah
yang baik itu Ya kita ambil intisarinya yang jelek jangan kita ikuti gitu nah ee itu kan bisa dijadikan bahan untuk membuat film animasi ya makanya kalau bisa ditawarkan kepada pemerintah Prof Anda kan dekat dengan e banyak menteri Pak Prof mahpud juga eh sering anda berdiskusi Saya rasa ya mudah-mudahan lewat lewat acara Akbar Faisal unsensor ini ya saya akan sampaikan sama Pak Prof e mahbud Pak menk karena menurut saya ee itu ide yang bagus tidak bisa hanya kita
hanya melarang saja hadapi dengan skenario dan strategi yang sama pula dan bukan cuma itu sekarang itu orang generasi milenial 69% generasi milenial 2024 nanti kan pemilihnya adal generasi milenial itu eh belajar kan sekarang sudah lewat platform digital platform ya Dari mana mereka belajar akhlak sekarang relasi dengan kawan dengan guru dengan orang tua segala macam itu itu kan sudah lewat ya Ee gadget mereka maka perlu
juga ada film-film animasi yang bicara tentang akhlak ya kalau revolusi mentalnya Pak Jokowi itu ya beginiloh ee apa namanya berhubungan dengan orang tua dengan tetangga begininioh menyelesaikan berbagai perbedaan pendapat begininioh menyelesaikan perbedaan konflik G bagaimana kita menghargai orang lain sehingga tidak mudah tersinggung seperti yang tadi kita bahas apa itu kan kalau dibuat dalam bentuk film-filmm animasi saya setuju nah ke depannya anak-anak
yang sekarang belajar dari gadget itu itu akan menonton Kenapa Iya gitu gu nah tapi kalau itu kita tidak lakukan itu ya tertinggal lagi tertinggal lagiah lagi salah lagi kita dan perlu ada ee bangar perlu mengundang saya 10 tahun berikutnya kan begitu kan membicarakan loh kita sudah bahasahunu Prof Ee tidak lengkap rasanya kalau berdiskusi dengan anda tidak berbicara tentang NU H anda seorang intelektual NU eh pemirsa e Prof Nadir
ini eh adalah eh dosen tenaga pengajar di monos university di Australia dia sebelumnya mengajar di wolonggong di Australia juga sudah lama di sana tapi masih ketua cabang saya r Suriah pengurus cabang istimewa namanya ya jadi saya menguasai dua negara kita harus membaca apa ini e wajah NU secara organisasi dan gerakan-gerakan dakwah NU dengan terpilihnya K
hanya ketika kolega saya bertanya Indonesia punya apa Saudi punya punya Ka'bah G ya punya Makkah Madinah ee Turki punya e Khilafah Utsmani dulunya Mesir punya Alazar saya jawab Indonesia punya NU dan muhammadiyahah saya bilang Kenapa Arab spring gagal saya bilang salah satunya karena itu tadi belum terbentuk karakter dan budaya demokrasi di kalangan umat Islam saat ini sementara dua sayap kita ini jadi kalau ada bilang baliho-baliho
sayap kebinekaan gitu yaah Sebetulnya Muhammadiyah inilah nah kebetulan karena saya dari sayap tradisional Saya dari NU e Muhammadiyah sayap modernis gitu ya nah eh saya merasa bahwa memang dengan terpilihnya eh Gus Yahya ya Eh sebagai ketua umum PBNU periode 21 dan 2026 ini sangat strategis karena kan 100 tahun NU ini Nu ya kasih 100 tahun dan dan gak mudah loh ada sebuah organisasi bisa bertahan 100 tahun ohya tentu saja ya gitu dan EE orang dan NU ini kan bisa
sampai 100 juta lebih anggotanya termasuk yang sudah wafat kan masih dihitung gitu Karena kan selalu kita kirimkan doa yang sudah wafat gitu alahyahum Wal amwat Nah itu kan kita selalu jadi anggotanya termasuk yang mati itu masih masuk masih masuk masih dihitung masih disertakan dalam doa-doa kita semua nah G berhak untuk dihitung dihitung nah ee eh jadi sangat strategis eh apalagi regenerasi eh itu sebuah
keniscayaan sejarah dan Betapapun hebatnya dan alimnya eh Prof K.H Said Agil siraj sekarang dilanjutkan oleh eh Gus Yahya Tapi risamnya kan masih tetap terpilih jadi Kombinasi yang ciamik menurut saya sebetulnya nah selain regenerasi ini juga ada tema Muktamar kemarin Kebetulan saya jadi salah satu pimpinan sidang di di Muktamar bersama Prof Nuh dan Kia asr Niam itu ee tentang kemandirian gitu NU sudah 100 tahun ini Sudahkah punya kemandirian
kemandirian terhadap penguasa dan pengusaha Bisakah kemudian warga NU itu diberdayakan dan jawabannya apa jawabannya adalah kita kemarin di Muktamar eh kita membuat eh BUMN Nu jadi unit usaha Nu jadi kalau negara punya bwmn NU juga harus punya lah i unit-unit usaha gitu kan Nah kita kita sedang bergerak ke arah kemandirian ekonomi seperti itu yang ketiga eh menurut saya eh ada pernyataan gusiah yang sangat menarik gitu ketika beliau
sudah terpilih jadi sebelum terpilih dan sudah terpilih konsisten beliau dan beliau eh sempat eh berdiskusi dengan saya secara pribadi Beliau mengatakan eh I'm willing to compromise gitu ya kecuali satu hal ini dibilang dalam banyak hal saya bersiap kompromi katanya tapi dalam satu hal ini saya enggak bisa apa bahwa di 2024 tidak akan ada capres dan cawapres dari PBNU tak ada capres dan cawapres dari
PBNU I pengurusnya maksudnya orang-orangnya iya kenapa Karena kemarin itu ada pola yang luar biasa jadi NU ini bisa membuat gol di masa injury time i ya dalam pilpres 2019 eh 2002 eh 19 ya betul 19 ya Ee tiba-tiba kayak Maruf Amin menjadi calon Wapres begitu gu kan Nah dengan dengan proses yang EE yang M Akbar lebih paham dari saya lah gitu kan I nah ee ee sebagian pihak rupanya hendak memanfaatkan itu bahwa bahwa pola ini Bisa diulangi di 2024 Apa memang
masalahnya Prof H kalau kita kaitkan dengan pembicaraan kita dari awal tadi Kalau ternyata kita sepakati dan saya setuju itu dan saya menyepakati bahwa NU adalah perkat hm dan penjaga kita dari seluruh risiko-risiko yang kita bahas tadi Nu bisa menjadi perekat ya Kenapa kemudian eh NU malah mau menjauhi kekuasaan itu jadi ee politik kebangsaan itu tidak pernah bisa lepas dari NU politik kebangsaan oke itu sama kalau kata Eh Mbah eh
wafasbula salah satu pendiri NU eh mereka yang hendak memisahkan NU dengan politik itu seperti hendak memisahkan rasa gula dari teh manis gitu gak bisa kita pisahkan gitu nah ee tapi politik kebangsaan itu tidak bisa dipisahkan karena NU harus menjaga negara ini Ini rumah bersama sebagai perkat tadi itu tapi politik kekuasaan itu yang harus dihindari Kenapa karena tidak bisa NU memainkan peranan politik kebangsaan
kalau dia terlibat dalam kursi-kursi kekuasaan di mana dalam kursi-kursi kekuasaan ketika terjadi polarisasi seperti yang terjadi sekarang ini ya nu tidak bisa menjadi penengah nu tidak bisa mengayumi semua pihak NU dianggap terlibat dan terseret dalam pusaran konflik polarisasi ini nah peran-peran seperti ini yang hendak dicoba dikembalikan oleh PBNU dari 2021 2026 Tidakkah itu telah Terlambat untuk bersikap seperti itu
lawong NU sudah ada di mana-mana Nah justru bagus ah Nu ada di mana-mana tapi tidak ke mana-mana ini dulu dulu zid MZ selalu bilang gitu kan saya tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana Lah iya makanya maksud saya gini kalau sikap itu diambil sekarang menurut saya Luhur ya Mencoba untuk ee apa namanya itu memposisikan Endu pada ee sebuah posisi yang seperti yang dibayangkan para pendirinya Iya tetapi hari ini kan anda sudah berada di mana-mana contoh
misalnya menteri kita bicara pada struktur kekuasaan Hm PKB saja sebagai representasi tanda petik NU di dalam perpolitikan itu sudah mendapatkan ee empat atau lima anggota kabinet ya H di luar PKB anggota NU yang menjadi menteri banyak loh H Saya membayangkan ee NU melakukan konsolidasi memanggil para menterinya Hm baik melalui format PKB maupun format non PKB eh datang ke sini kalian ya ya bukan cuma menteri
anggota-anggota dprnya anggota-anggota DPR apalagi pejabat-jabat negaranya dubes-dubesnya semua itu semua saya jadi agak confuse penyikapan Gus Yahya tadi itu dengan apa yang terjadi sekarang bagaimana memilah mendetailkan eh masalah itu agar kemudian tidak sengkarut ya nah jadi eh tentu gusah yang bisa menjawab Ah nanti saya akan mengundangnya ada diskusi unsensor yang belum selesai
Nah Tapi menurut saya tadi ketika kita membedakan politik kebangsaan dengan politik kekuasaan guu maka yang tadi dibayangkan oleh Abang Akbar t di politik kebangsaan bahwa lintas partai gitu ya Ee menteri anggota DPR gitu ya pejabat negara segala macam apapun eh partaimu guitu eh kalian adalah santri kalian tetap kembali ke Jati Diri adalah santri NU yang di mana sekarang Kiai kalian memberikan tausiah berikan nasihat-nasihat bahwa isu-isu ini harus
diselesaikan isuisu kebangsaan kemasyarakatan bahwa ada ada RUU RUU yang terhambat di parlemen tapi itu berkepentingan orang NU untuk menyelesaikannya itu harus diselesaikan isu-isu luar negeri par duubus dipanggil sebelum berangkat gitu atau atau lagi datang ke sini ya bahwa ini ada isu-isu eh bagaimana NU berperan pada peradaban dan perdamaian dunia ya Ee dan ini harus diperankan nah ini yang selama ini mungkin belum maksimal dilakukan Kenapa
karena selama ini dianggap representasi politik nuu adalah PKB Iya sehingga begitu PKB sudah dapat kursi the end of diskusion kan gitu kan I selesai diskusi nah sekarang yang menarik adalah ketika Gus Yahya mengatakan beliau tidak akan apa membiarkan pbn punya calon presiden dan calon wakil presiden orang sekelilingnya banyak orang politisi yang kemarin mendukung Gus ada e nusrun Wahid dari golk gitu kan ada Gus Ipul Gus Ipul gitu ya Walikota Pasuruan gitu ya nah
eh dan para gus-gus lain yang bermainlah di situ gitu ya Nah justru menurut saya ini akan menarik ke depannya bahwa ternyata representasi nu tidak hanya lewat PKB ee anda berkiprah di partai mana pun tidak mengurangi kenu-an Anda tapi tapi sejujurnya saya malam menjadi khawatir kalau NU merapatkan barisan seperti itu Gus ya Gus Nadir apa itu lama-lama partai politik tidak kita butuhkan loh kalau dn-nya sudahid seperti itu apalagi hari
ini partai politik menjadi sangat sopan kan di hadapan kekuasaan gitu I gimana itu ya NU akhirnya menjadi social pressure GR cakep gitu loh e bagaimana menjalankan politik kebangsaan itu tadi ketika saluran-saluran demokrasi terhambat oleh oligarki politik Nah ini kan disasi beliau nih jadi oligarki politik dengan mani politiknya gitu ya ya itu saudara saudara sepupu saudara sepupu lain Bapak nah eh ke mana sekarang rakyat
harus mengadu ke mana rakyat harus menitipkan gagasan-gagasannya Iya tapi kalau NU bermain di politik kekuasaan orang akan bilangoh sama saja kami menutupkannya tapi ketika NU menarik diri ya dari politik kekuasaan dan memperkuat politik kebangsaannya gitu maka yang terjadi adalah NU menjadi semakin dekat persis seperti zaman gusur kan ini menghidupkan Gus Dur ya Eh eh eh tekl dari Gus Yahya itu bagaimana dulu itu orang rakyat dari kampung maupun
pejabat semua antri ketemu gusur di Ciganjur kan dulu kan misalnya bercerita apa gitu gustur mendengarkan apa nah saya melihat ini punya potensi seperti itu dan pemerintah tidak perlu khawatir partai-partai politik tidak perlu khawatir tirut saya Nah justru Ini sebuah ee eh era baru Ketika kita melihat kontestasi politik dengan kacamata strategi kebudayaan yang kita bicarakan dari tadi cakep ini kalau gini ini
padajelasin baru saya bukan saya ketemu PBNU belum gu Ini ngjelasin iya ini ini sama dengan menjaga jarak tapi apa ya nilainya menjadi semakin mahal ini Prof bergeningnya semakin naik oh bergenya menjadi semakin naik I kalau selama ini pintu hanya satu H pintu PKB secara formal ya pintu-pintu yang lain bisa terbuka nih Nah atau menyodorkan diri atau apa membuka pintu selebar-lebarnya mmohon masuk ke kita juga dong Iya dan
selama itu untuk kemaslahatan bangsa dan umat Why not kan gitu kan bicara politik kebangsaan gitu Justru itu yang harus dilakukan gu nah tapi kalau kemudian hanya pada tahap mohon maaf misalnya rebutan komisar rebutan Dirjen rebutan menteri misalnya gitu ya Nah ini recehan iya i ya mungkin dapat yang mintanya itu ya dapat dikasih begitu receh dan selesai gitu dan itu bukan nuu Sebenarnya ya itu politik kekuasaan itu tadi kita ingin politik
kebangsaan gitu ya Prof perbincangan menarik saya sebenarnya ingin kita berdiskusi lebih panjang lagi jadi saya tarik tadi mulai dari Bagaimana melihat Indonesia dari sudut pandang problem hari ini sampai pada NU karena ee Saya rasa kita sepakat dan banyak orang sepakat bahwa NU diakui atau tidak telah menjadi perkat kita bersama dengan Muhammadiyah tentu saja ya makanya saya setuju dengan
Anda mengatakan kalau negara lain Arab Saudi memiliki Ka'bah kita memiliki dua Iya bangunan NU dan bangunan Muhammadiyah Saya rasa itu harapan kita bersama Prof I Prof Nad terima kasih Bang akbara kasih pembicaraan yang saya nikmati i e tapi seperti yang saya sampaikan tadi diskusi-diskusi seperti ini itu masih kalah Kalau diperbandingkan diskusi tentang hal-hal yang ya begitu De ya kita viralkan bang kita viralkan tapi ini ini cara itu cara
kami cara kita di sini negara Institute bekerja sama dengan akar Fa sensor untuk ee menggaungkan Bagaimana negara itu kita pandang ya bagaimana negara itu kita perlakukan ya sekali lagi Prof Terima kasih mungkin berikutnya kita bikin ee acara seperti ini lagi di Melbourne di melb menarik menarik Wah ini siap-siap berangkat semua ya sengaja banyak hal ini belum kita selesaikan Har belum k kita mau lanjutkan di mailb
betul demikian saudara sekalian para penonton sensor eh selalu menarik berdiskusi dengan seorang intelektual selalu menarik berbicara dengan orang yang sejak tahun 97 mengambil jarak R dengan Indonesia karena dia tinggal di Australia sejak tahun 97 dan tulisan-tulisannya ada di mana-mana Saya rasa tidaklah Berlebihan kalau kita mendengarkannya memberikan analisis tentang kita yang juga adalah dirinya
Saya ulangi lagi memberikan analisis tentang kita yang juga adalah dirinya Terima kasih telah menyaksikan acara ini Billahi taufik wal hiidayah asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Waalaikumsalam terima [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] kasihoke
Comentarios
Los comentarios aún no se han cargado.