Jumlah tidak suka adalah perkiraan dari proyek Return YouTube Dislike, karena YouTube tidak lagi menampilkannya. returnyoutubedislike.com
[Musik] Tiba-tiba Jokowi meradang, marah, emosi tinggi begitu bekas partainya menyebut ada upaya yang dilakukannya agar tidak dipecat sebagai kadar. Namun, keputusan sudah bulat. Upaya lobi atau menahan pemecatannya tetap terjadi. Nah, saat cerita ini diungkap, Jokowi bisa jadi merasa sudah jatuh tertimpa tangga. [Musik] Dianggap mengkhianati partai tapi
berusaha mempengaruhi agar pemecatan tak terjadi. Orang Sol itu kini melawan segala serangan yang menimpanya. Namun perlawanan itu tidak dilakukannya sendiri. Dia menggunakan pengaruhnya pada berbagai pihak untuk menekan PDIP. Bagaimana sesungguhnya perseteruan itu bermula dan akankah satu persatu cerita pengkhianatan Jokowi bakal dibongkar PDIP? Saya itu sudah diam loh ya. Difitnah saya diam, dicela saya
diam, dijelekan saya diam, dimaki-maki saya diam. Saya ngalah terus loh. Tapi ada batasnya. Perseteruan PDIP dengan Jokowi yang mantan kader nampaknya bakal makin berkepanjangan. Usai petinggi PDIP Dedi Sitorus bercerita, ada utusan Jokowi yang berusaha menahan supaya mantan presiden tidak dipecat. Namun keterangan ini dibantah keras, dituding sebagai upaya
memojokkan, mencela, dan juga menjelek-jelekkan Jokowi. Menurut Presiden ketujuh itu, dia selama ini diam. Narasi yang berusaha dibangun memperlihatkan Jokowi itu bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa dan sekarang sudah seperti rakyat kebanyakan, bukan pejabat. Untuk menguatkan argumentasi itu, dua kelompok relawan digerakkan. Uce Gustav dari Bara JP mengatakan akan mendorong Jokowi untuk
mengambil tindakan hukum. Pertanyaan besarnya, beranikah Jokowi melakukannya? Sementara Fredy Damanik dari Projo ini justru berbalik mengancam apabila PDIP terus-menerus menyerang Jokowi bukan tidak mungkin akan dilawan balik dan partai banteng itu akan dihancurkan dengan cara Jokowi. Para organ relawan itu apa tidak berkaca ya melihat diri mereka sendiri? Seberapa besar mereka? Apakah yang UC dan Freddy sebutkan itu
murni suara relawan ataukah pesanan? Karena begini, setelah Jokowi lengser, kelompok-kelompok relawan sudah tidak terdengar lagi aktivitasnya. Ya, kabar bahwa mereka akan berubah jadi partai politik juga tidak lagi ketahuan nasibnya. Mereka sudah berubah jadi kelompok-kelompok elit yang kemudian ikut ditarik Prabowo menduduki jabatan di kabinet. Pernyataan dari relawan ini
memang membentuk anggapan Jokowi harus mereka yang bela bukan oleh partai politik apalagi oleh TNI PORI agar ada penilaian. Cuma relawanlah sekarang kekuatan Jokowi. Mau bagaimanapun ada persepsi yang mau ditunjukkan. Ada opini yang dikembangkan, ada target yang dimaui oleh sang mantan, yakni dirinya sama seperti Jokowi sebelum 2004. Dia sendirian, tidak memiliki partai, tidak punya kekuatan, apalagi
punya kekuasaan. Jokowi sedang memainkan politik playing victims. Seolah-olah dia korban yang perlu dibela, dikasihani, dan mendapat dukungan. Mantan presiden itu paham benar. Rakyat Indonesia mudah sekali punya belas kasihan, simpati, peduli, lalu beramai-ramai akan melakukan pembelaan pada orang yang terkesan lemah dan tak berdaya. Nah, untuk makin menguatkan
bangunan persepsi itu, Jokowi menutup kalimatnya dengan saya ngalah terus, tapi ada batasnya. [Musik] Ucapan itu seakan ingin mengkonfirmasi bukan salah Jokowi bila setelah respon yang dia berikan bakal ada reaksi atau aksi balasan pada PDIP. Tapi apakah beneran Jokowi yang selama ini diam saja? Dia tidak melakukan apapun untuk menghabisi BDIP di pemilu dan Pilpres
lalu? Apa benar dalam 20 tahun kebersamaan dengan Jokowi? Siapa sebenarnya yang dapat keuntungan besar? Apakah Jokowi atau PDIP? Dan selama tercatat sebagai leader, apakah PDIP diam saja ketika Jokowi difitnah, dihina, dicela, hingga dimaki-maki. Ya, dulu ketika awal terjun ke politik tahun 2004 menginginkan maju sebagai calon walikota Solo hanya PDIP lo yang bersedia menjagokannya. Jokowi mendatangi banyak partai. Semua
menolak mengusungnya jadi calon walikota. Pertama kali sewaktu maju sebagai calon presiden, saat dituduh sebagai pro asing, aseng, asong, siapa yang pasang badan coba? Saat banyak fitnah menyebut Jokowi keturunan PKI, siapa yang membelanya? Ada pula yang menerasikan bahwa dia akan mendatangkan 10 juta tentara Cina. Memang siapa yang melakukan kontra wacana hingga sampai tudingan keji. Bila
menang Pilpres 2019, maka menjalankan agama Islam akan dibatasi. Dan dari banyak tudingan yang sangat keji serta tidak berperi kemanusiaan, siapa yang pasang badan? Siapa coba? Siapa yang membela Jokowi? Bukan hanya PDIP saja. Banyak influencer, opinion maker yang berada di garis depan menjelaskan itu semuanya. Saat itu kelompok relawan pada ke mana? Hah? Pada ke mana kelompok relawan itu? Adakah suara mereka
terdengar? Semoga rakyat tidak lupa. Rakyat tetap ingat ketika Gibran mau maju sebagai walikota, sorotan tajam dan sebutan sebagai walikota karbitan juga mereka terima. Apa iya? Apa sebutan itu malah dilontarkan oleh kader maupun simpatisan PDIP sendiri? Kan tidak. Namun setelah semua berlalu, tiba-tiba Jokowi dengan enteng mengatakan selama ini diam mengalah. Bukankah selama ini?
Setidaknya menjelang Pilpres hingga Pilkada 2024, PDIP dipermainkan habis-habisan oleh Jokowi. Masih tergambar jelas di ingatan kita saat Ganjar Pranowo dideklarasikan sebagai capres, Jokowi masih ikut menghadirinya. Namun ketika Mahfud dideklarasikan sebagai Cawapres, Jokowi sudah tak tampak batang hidungnya. Jokowi juga sempat membantah anaknya akan mendaftar sebagai Cawapres dengan alasan tidak memenuhi syarat serta belum
berpengalaman. Kibran sendiri di hadapan Ketua Umum PDIP ini berani menjawab loyal dan tunduk pada perintah ketua umum. Tapi nyatanya MK memutuskan merubah syarat yang memungkinkan Gibran ikut Pilpres. Pada saat tahun lalu pada musim kampanye ini, banyak pihak menyoroti agar bansos dihentikan dulu penyalurannya dan Presiden malah bergeming. Mau bagaimanapun Jokowi tahu tanpa bansos mengalahkan kandidat dari PDIP jelas
membutuhkan kerja lebih keras lagi. Jauh hari sebelum Pilpres, dua hari menjelang Gibran dideklarasikan sebagai Cawapres, Andi Wijayanto yang kebetulan masih menjabat sebagai gubernur Lem Hanas dipanggil ke istana. Saat itu Jokowi menyampaikan tiga hal pada Andi. Pertama, Prabowo Gibran akan menang. PSI akan masuk parlemen dan suara PDIP akan turun. Dua omongannya terbukti dan hanya satu yang tidak terealisasi.
Andai kita mau hitung-hitungan di atas kertas sesaat usai pemilu, Pilpres dan Pilkada, siapakah yang sebenarnya dijadikan korban? Siapa coba? Jokowi dihabisi oleh PDIP atau sebaliknya. Dan layakkah melihat situasi politik kekinian Jokowi mengatakan dirinya diam saja? Tidakkah itu yang disebut playing victims? [Musik]

Komentar
Komentar belum dimuat.