Pangeran, Mingguan: Grace Natalie Yakin PSI Lolos 4%

Pangeran, Mingguan: Grace Natalie Yakin PSI Lolos 4%

Asumsi

yangkitakanitugitugakiniadadankalaujadiorang

182,5 k
व्यूज़
3,1 k
लाइक
894
डिसलाइक (अनुमान)
1.7 %
👍 / 👁
34:18
अवधि
20 févr. 2019
प्रकाशित
4,9 k
शब्द
id
सबटाइटल

डिसलाइक Return YouTube Dislike प्रोजेक्ट का अनुमान हैं, क्योंकि YouTube अब इन्हें नहीं दिखाता। returnyoutubedislike.com

पूरा ट्रांसक्रिप्ट

⬇ TXT⬇ SRT⬇ VTT

Selamat datang di Pangeran, Mingguan di Asumsi Asumsi yang mana? Yang online-online itu. Gua udah lama banget mau ngundang ibu disebelah gue ini Ibu loh! / Oh Sis ya? manggilnya harus sis / Sis dong! sesuai sama protapnya kalau manggil siapapun dari PSI Ketua umum Partai Solidaritas Indonesia, Grace Natalie. Thank you Sis Grace sudah datang. Hai bro Pangeran, makasih sudah di undang. Yap! Angel energy yah, energi malaikat. Pertanyaan pertama- Bukan unicorn energy, kalo ada sih gua pake / Kalo ada dipake? / kalo ada gua pake Pertanyaan paling penting yang mau gue tanya pertama, emang bener lo makan ketoprak pakai nasi? Makan, makan bistik pake nasi, makan gado-gado pake nasi Jadi semua pake nasi? / Pake nasi / Oke, itu udah terjawab oke, itu yang paling penting udah kejawab.

Cuma makan indomie aja sih gue gak pake nasi / Gak pake nasi yah, oke siap umm... PSI, ini kan kalau kemarin lo keluar video lo yang soal ketoprak, apa? Makan ketoprak pakai nasi terus kayak ya lo bikin video meme viral segala macam lah ya kenanya, "Nih ketum partai ngapain sih kelakuannya kayak gini, kurang kerjaan ya?" Apa sengaja buat bikin huru-hara ya gitu sengaja buat cari perhatian, caper aja untuk meningkatkan elektabilitas? Iya, wah ternyata bro rajin juga ya nyariin komen-komen orang ya? Gua sih suka ngeliatin, karena kan videonya beredar mulu kan Jadi gini, ini kan waktu udah mepet nih, dan baru kali ini KPU kita tuh buat peraturan, tidak boleh beriklan sampai 21 hari menjelang hari-H berarti tanggal 24 Maret nih baru boleh kita sosialisasi di media elektronik, atau koran gitu yah dengan logo partai dengan visi misi dan segalanya gitu. Nah, jadi sekarang kan belum bisa nih kita mau mensosialisasi, mau ngasih pesan apa nih yang biasanya kita gaungkan itu, anti intoleransi gitu dan sebagainya gak boleh kan? Nanti kena semprit gitu kan, jadi ya udah ini gimana caranya ya?

Sekaligus bagaimana caranya kita juga kepengen memperlihatkan politik itu gak mesti selalu yang old school gitu kan? Yang selalu harus dengan retorika, kalau bikin sosialisasi lagi megang padi, lagi di sawah, lagi ngangkat tanah kecil, itu basi banget gitu kan Gimana kalau kita tuh ya menunjukkan sosialisasi yang juga bisa tetep fun, tapi gak pake bohongin orang, gitu kan ya udah kita punya idenya begitu, sesuatu yang bisa memancing rasa penasaran. Kayak lo kan nanya kan nih, “Apa sih itu maksudnya?” gitu ya kan, ya itu tadi sosialisasi ditambah lagi kita pengen gak melulu politik itu harus sesuai dengan template yang dibuat orang kan itu yang sebenarnya kita buat dari awal, dari mulai seleksi caleg gak mesti kita ikutin template yang dibuat orang termasuk juga ketika sosialisasi di media, gak perlu kalau yang lain tuh selalu dengan gambar burung garuda di padi, di sawah, dengan nenek-nenek, anak kecil, bagus sih, tapi udah basi banget itu, semua orang melakukan itu gitu. umm... PSI itu sebenarnya ideologi politiknya apa sih? Pancasila / Berarti sama kayak partai lain? / Dengan lebih sungguh-sungguh Gimana tuh dengan lebih sungguh-sungguh?

Jadi gini, kemarin kan waktu dipidato kami di Jogja itu kami bicara tentang nasionalis gadungan, ya kan? Memang kalau kita sekarang bicara ideologi partai, spektrum di Indonesia itu ya religius, nasionalis, nasionalis-religius, gitu ya kan Tapi kritik kami hari ini adalah, kenapa sih ngomongnya nasionalis? tapi ketika diperhadapkan pada isu-isu yang menguji nasionalisme mereka, mereka diam saja. Misalnya, udah jelas dalam konstitusi kita kebebasan untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan itu udah dijamin dalam pasal 28 dan pasal 29. Tapi sekarang susah banget kan membuat rumah ibadah, ini udah banyak yang-- kasus-kasus yang terjadi bahkan yang sudah punya IMB sekalipun, sudah berlangsung cukup lama, masih bisa didatangi massa untuk dihentikan proses ibadahnya, dan sebagainya itu. Tapi gak ada yang bersuara nih, yang para nasionalis-nasionalis itu gitu, itu yang kemudian kita kritisi. Jadi buat kami kita gak harus kaku yah, dalam- pokoknya dalam spektrum, dalam ruang gerak pancasila, itu kita kerjakan disana dan dengan sungguh-sungguh, artinya ketika memang dibutuhkan posisi kita berpihak dimana dalam proses-proses

dalam peristiwa-peristiwa intoleransi, ya kita berdiri menyuarakan disana, sekalipun dikatain macam-macam dikatain anti pancasila, PSI Partai Setan Indonesia, PSI Partai sesat Indonesia, tapi apa yang kita omongin itu bener meskipun against all odds, ya kita harus bilang, termasuk soal anti korupsi misalnya semua partai ngomong anti korupsi, tapi semuanya ngirim wakil ke KPK juga kan? Jadi dimana semangat anti korupsinya, kalau mulai dari seleksinya aja udah gak jelas tertutup. Kemudian gak ada mekanisme pengawasan kinerja, jadi jargon aja sih kalo buat kita itu yang kami kritisi nasionalis gadungan. Dan PSI ini kan juga sering bicara soal isu-isu sensitif, soal perda berbasis agama misalnya waktu itu lalu juga soal anti poligami, dan lain sebagainya. Gua melihat bahwa ini kan sebenarnya sebuah langkah yang terkalkulasi, bahwa orang bilang “wah ini bunuh diri!” tapi enggak sih, mungkin ada memang yang akan tertarik, nanti ini bisa secara spektakuler berhasil nanti kelihatannya pada waktu pileg, kelihatan dari jumlah suara, atau bisa juga secara spektakuler

bisa luar biasa menggerus juga dan juga menghancurkan PSI secara premature kalau menurut gua. Gimana? Gak serta merta ya, artinya bukan spontanitas gitu kan. Memang problemnya ada, dan bukan hanya PSI sebenarnya yang bicara, sudah ada kajian-kajian akademis yang kita pakai misalnya Dr Haedar Nashir gitu kan, disertasinya kan membahas tentang perda-perda syariah gitu ya dan sebenarnya kita jangan alergi mendengar istilah perda injil, atau perda syariah karena itu sebenarnya istilah yang wajar dipakai dalam kajian akademis, yang meneliti tentang ini gitu. Kemudian juga Buya Syafi’i Maarif, sudah pernah bilang soal perda syariah itu atau perda agama yah sebenarnya perda apapun yang syariah kek, injil kek, hindu, buddha perda agama itu bagaikan duri dalam daging, itu politik gincu gitu. Jadi memang sudah ada yang- kajian akademis yang melatarbelakangi itu ditambah lagi makin mengkhawatirkan sih bro Pangeran, jadi sekarang ini orang semakin biasa melihat peristiwa-peristiwa intoleransi, misalnya aja ketika kami ngomong ini

ketika kita bicara soal PSI tidak akan mendukung perda-perda agama, rame banget tuh di timeline saya bully-an dan caci maki, dan mereka seolah membenarkan ya wajar dong yang disitu mayoritas maka dibuat perda dengan- sesuai dengan agama mayoritas gitu. Kalau ada kegiatan keagamaan yang dilarang, misalnya karena takut bentrok dengan massa yang lebih besar jumlahnya ya sebaiknya yang kecil ngalah aja gitu kan? Kalau ada peristiwa pelecehan seksual perempuan bukannya kita menyalahkan peristiwanya, apa yang terjadi, bagaimana pelakunya dihukum bagaimana sudah ada upaya hukum atau enggak, yang duluan dicek “Ini perempuannya pakai bajunya apa nih? Kalau seksi ya wajar aja kamu jadi korban pelecehan” gitu kan Jadi ini ada problem nih. Normalisasi intoleransi yang makin banyak jumlahnya, serem loh kalau ngeliat angkanya. Mungkin pernah baca surveynya PPIM UIN, potret keberagaman guru di Indonesia itu mencatat para guru jumlahnya cukup besar, punya opini intoleransi yang tinggi, padahal guru nih. Surveynya BIN juga pernah kan, terkait dengan intoleransi dikalangan mahasiswa dan juga anak-anak SMA

itu tambah banyak gitu kan. Jadi makannya kami perlu, merasa perlu untuk mengedukasi publik agar jangan mau terus dalam tanda kutip "dibohongi" oleh para politisi dari partai-partai apapun itu yah yang mau religius kek, yang nasionalis kek, yang jualannya perda-perda yang kesannya bermoral dan beragama tapi belum tentu menjamin kinerja mereka juga baik, terbukti masih banyak yang kena kasus korupsi kan? Padahal mereka rajin mengeluarkan perda-perdanya seolah-olah bermoral dan ternyata diujungnya lagi menggerus persatuan dan kesatuan bangsa, yang hari ini terlihat dari anak-anak sekolahan tuh SMA dan Universitas, semua punya kecenderungan intoleransi yang tambah tinggi anak-anak kecil TK, PAUD gitu, sekarang udah mulai bisa “Gak mau main dengan yang beda agama sama mereka” sekarang makin ngetren juga timbul perumahan-perumahan yang, “Semuanya harus satu agama satu komplek kalau beda gak boleh beli disitu” gitu dan sebagainya makin mejamur nih eksklusivitas tadi gitu kan, yang makin dipersubur gara-gara tadi itu peraturan-peraturan levelnya lokal yang tidak mengakomodir perbedaan, orang tuh harus sama gitu kan, harus ngikut dengan mayoritas dan sebagainya

ini makannya kita memberanikan diri, gak bisa lagi kita berdiam diri, kita harus melakukan sesuatu dan buat kami kalau ada yang kontra it’s ok, karena pasti ada yang pro juga gitu ini keresahan banyak orang juga kok, cuma sekarang kalau kita bersuara soal ini siap-siap aja diserbu dengan anti umat, kayak tadi PSI kan yang mengalami kita, sesat gitu kan anti pancasila, komunis dan sebagainya gitu kan. Jadi orang nih sekarang takut untuk ngomongin ini kalau sendirian lalu dibully rame-rame gimana kan? Kalau dia punya jabatan politik kalau kemudian menggerus elektabilitasnya gimana? Jadi orang gak mau ngomong sekarang sampai kapan kita mau, ya udah PSI kita kan nothing to lose yah, kita anak-anak muda juga semuanya gak punya beban masa lalu, jadi ketika kita sepakati, kita mau bicara soal isu ini memang sudah ada dari awal kalau lihat PSI ulang tahun pertama nih tahun 2015, kita udah ngomong soal ini Cuma waktu itu gak ada yang peduli aja kita ngomong, sekarang kita ngomong hal yang sama sebenarnya baru orang ribut gitu kan, karena PSI sekarang sudah menjadi peserta sah pemilu 2019.

Iya dan juga banyak yang merasa bahwa kue suaranya juga terancam mungkin dengan PSI, karena kayak tadi lo bilang kan sebenarnya sama-sama pancasila, nasionalis juga, memperjuangkan keberagaman juga toleransi, kan sebenarnya bukan PSI doang yang nogmong kayak gitu kan? Nah kalau misalnya soal bersebrangan dengan lawan politik biasa tapi bagaimana bersebrangan dengan pihak-pihak yang satu kapal dalam koalisi untuk mendukung Pak Jokowi dan Ma’ruf Amin gitu sekarang kan, dan sebenarnya orang biasa juga bisa melihat potensinya tuh ada kan, ada dari partai-partai lainnya. Sejujurnya sih memang kita sampai ditelpon, tapi gak usah disebut siapa ya / Ya oke, yang nelponnya levelnya apa nih? Tinggi, nelpon, “Kenapa sih? Ini nih merusak solidaritas koalisi loh” gitu kan, ada juga yang pakai namanya Pak Jokowi gitu, mengatasnamakan “Takutnya nanti menggerus Pak Jokowi loh” gitu ya. Ya udah kita tampung aja kita jelaskan bahwa kita ini tidak menyasar orang per-orang atau partai per-partai tapi yang kita kritisi adalah kalau soal korupsi ya mekanisme pengawasannya gitu kan dan kalau soal tadi nasionalis gadungan, komitmen mereka terhadap perjuangan melawan intoleransi

kita gak menyasar pada satu persatu orang sih, atau satu persatu partai. Pokoknya siapa yang ngerasa kriterianya masuk, ya itulah itu memang kritik kita gitu kan ya memang resiko ini harus diambil sih, kalau sama-sama dalam satu koalisi kan gak berarti semuanya harus sama kan? PPP juga mengambil poSisi yang bersebrangan, kita juga gak tau karena siapa tau ada juga pemilih Pak Jokowi yang merasa terganggu dengan pernyataan PPP, ya tapi kita mengapresiasi kalau memang itu agenda perjuangannya ya silahkan. Jadi pokoknya kalau buat kami selama memang ada dasarnya, kita ngomong bukan hanya opini, ada kajian akademisnya ada survey dan riset-riset memang membuktikan bahwa ini masalah, ya kita omongin gitu. Dan yang paling penting sejauh ini Pak Jokowi baik-baik aja kok. Gak pernah komplen itu yah, “Wah PSI gangguin saya ini” gak pernah gitu ya? / Enggak, gak pernah. Jadi sebenernya apa yang mau ditargetkan oleh PSI ini adalah pemilih yang memang kemarin sudah memilih partai pendukungnya Pak Jokowi, namun ada ketidakpuasan gitu terhadap pilihan sebelumnya sehingga kami lebih segar, kami lebih baru loh, kami berbeda loh, gitu.

Jadi gini nih, kan kalau dilihat backgroundnya, saya, bro sekjen, dan siapapun lah banyak juga caleg-caleg pengurus itu kan sebenernya kita ini banyak dari kita orang-orang yang tidak tertarik sama politik kan sebenarnya. Oh lo juga enggak sebenarnya? / Enggak! Gak tertarik serius, baru mulai ngeliatin politik secara lebih serius itu ya kira-kira mungkin 5 tahun belakangan sebelumnya gak tertarik, sekalipun saya profesinya wartawan. Dulu ya cuma sekedar karena kewajiban aja, namanya juga profesi kan, tapi gak suka sebenarnya, gak enjoy gitu kita memperjuangkan keresahan kita juga sebagai warga negara sih, jadi bukan tadi kalau mau tanya siapa yang disasar? Kita menyasar orang-orang yang kita yakin punya keresahan yang sama dengan apa yang kita rasakan sebagai warga negara bagaimana mungkin ketika konstitusi kita sudah menjamin kebebasan untuk beribadah misalnya sekarang ada peraturan yang dibuat tahun 2006 bahwa disitu untuk mendirikan rumah ibadah harus ada ijin dan sebagainya padahal sesuai dengan konsep konstitusi kita tidak ada mayoritas, tidak ada minoritas kan, semua orang sama berarti tidak ada agama yang umatnya mayoritas, tidak ada agama yang umatnya minoritas

maksudnya perlakuannya sama untuk yang umatnya banyak maupun yang umatnya sedikit. Peraturan tadi membuat susah umat yang jumlahnya sedikit, tapi berlokasi di tempat yang banyak gitu kenapa harus dibuat peraturan yang membuat agama yang jumlahnya sedikit lebih susah? Kenapa gak dibuat peraturan itu, ya tentu harus tetap dibuat peraturan ya, mengaju tetap mengacu kepada konstitusi dan mungkin lebih kepada tata letak ruang gitu kan, supaya gak bentrok, supaya gak macet ngelock gitu kan bagaimana misalnya dibuat jarak dan sebagainya, jadi semuanya terakomodir gitu kan. Sekarang ini kan susah, banyak loh yang sudah komplain mengeluhkan, semua persyaratan sudah dipenuhi, IMB udah ada tapi hanya karena ada ormas yang ngompor-ngomporin jadi susah gitu misalkan, ini kan hak dasar yang terampas gitu kan belum lagi sekarang karena semakin naiknya politik identitas, orang tuh makin gampang untuk mempersekusi apalagi sekarang dengan embel-embel UU penodaan agama gitu, apa yang terjadi di Bu Meliana bisa terjadi bisa siapapun dari kita loh, yang kita tau proses pengadilan Bu Meliana itu kan banyak dikawal oleh ormas kan ketika itu. Bagaimana kalau kepastian hukum gak ada? Tapi bergantung pada tadi, tekanan dari yang kesannya banyak

dan kesannya lebih, berbicara lebih keras gitu kan, jadi kami memperjuangkan orang-orang yang merasa bahwa Indonesia ini kalau mau umurnya masih panjang, gak misah-misah gitu ya, ya kita harus kembali pada konstitusi kan ada yang bilang, “Tapi mbak Grace, perda syariah melarang prostitusi dan minuman keras kan bagus?” Loh? siapa yang bilang miras dan prostitusi itu bagus? Prostitusi itu perdagangan manusia ya udah kita mengacunya kepada perdagangan manusia aja, tidak perlu misalnya mengambil nilai agama tertentu untuk membuat aturan melarang prostitusi, miras ya memang miras tuh berbahaya buat kesehatan, kita buat aja aturan karena anak-anak dibawah umur itu sangat rentan, penjualannya juga harus di tempat-tempat tertentu dengan ijin, dengan batasan usia, artinya yang universal. Jadi kami menyasarnya kepada orang-orang yang makin resah, Indonesia ini beragam dari awal para founding fathers kita yang dimana juga disana banyak pemuka agama gitu ya itu menyadari bahwa kalau kita mau tetap jadi satu kesatuan, kita harus mengakomodir perbedaan ini, makannya bhinneka tunggal ika makannya kan sila pertama itu Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan kepada agama tertentu aja.

Nah disitu banyak yang sudah mengacu agama tertentu aja, jadi gawat banget nih, nanti pasti pecah loh mungkin Aceh juga akan memisahkan karena mereka punya standar sendiri, Papua punya sendiri, Bali mungkin mau ikut-ikutan jadi kita concern dengan itu sih, kalau kita masih mau tinggal di Indonesia nih, gak mau pindah ke negara lain kalau kita masih pengen hidup dengan baik semuanya disini, ya kita harus balik lagi kepada konstitusi, ini yang keresahan kami. Jadi kami percaya ada orang-orang yang punya keresahan yang sama, yang masih sayang sama Indonesia yang meskipun mungkin dia jumlahnya banyak, tetapi menyadari bahwa kalau kita gak merangkul keberagaman maka Indonesia gak akan jadi satu nih, ada 700 lebih suku bangsa, suku yah, bahasa daerah lebih dari seribu gimana tuh mau disamain? Ukuran standar yang mana yang mau dipake? Gitu sih. Dan dengan segala atribut yang melekat sama lo gitu kan, secara gender, secara etnisitas, secara agama itu kan ya itu kan semua minority semua kan sebenarnya ya, kalau dilihat ya. Nah menurut lo dengan lo ngomong kayak gitu kan segala macam resistensi, kontra reaksi kan luar biasa akan berbeda gak seandainya itu semua terbalik bahwa semua atribut yang melekat sama lo tuh semuanya mayoritas gitu

akan berbeda gak? / Akan berbeda, ngerasa kok! diberbagai forum ketika saya ngejelasin ini ada orang-orang yang kadang merasa terlalu ofensif gitu kan tapi saya ngasih penjelasan sih. Kalo hal kan saya gak pernah pakai opini sendiri nih semuanya berbasis data, karena saya sendiri paham banget dan sadar diri, keluar dari mulut saya beda banget misalnya keluar dari mulut Guntur Romli, padahal barang yang sama yang kita omongin, makannya saya selalu balik ke data ke survey, ke kajian akademis, gitu kan, gak pake opini-opini sendiri. Tapi yes kalo seandainya hal yang sama yang ngomong Raja Juli Antoni mungkin gak masalah hal yang sama yang ngomong Guntur Romli mungkin gak masalah, gitu kan, ya makannya harus sering dibiasain deh kalo semakin sering kita membicarakan, orang gak akan terlalu terkaget-kaget Cuma karena ini yang jumlahnya lebih sedikit udah merasa inferior dan takut, jadi jarang diomongin makannya tidak hanya yang mayoritas, ya minoritas pun, “Mbak Grace kenapa gak yang lain aja sih yang ngomong? Jangan kamu” gitu kan tapi ya harus mulai dibiasain sih, toh kita punya dasar riset yang jelas, kajian-kajian akademisnya juga mendukung, gak main opini kok.

Satu pertanyaan yang banyak memicu konspirasi, teori konspirasi dikalangan netizen adalah “PSI ini kayaknya duitnya banyak banget, duitnya dari mana? Dari luar negeri ya duitnya ya? Pendanaannya dari mana nih PSI ini?” gimana Sis Grace? Udah dari dulu sih yah, dibilang katanya kita dibacking 9 naga, macem-macem lah. Dibacking sama penjahat BLBI katanya? / Iya, pokoknya banyak deh / Itu gak bener? / Gak bener kita tuh dari awal fundraising, dan fundraising itu yah susah banget, terutama untuk kepentingan politik sampai sekarang pun kita masih fundraising, dalam minggu ini aja paling enggak 3 fundraising yang saya datengin dan kita udah banyak belajar lah dari fundraising itu, misalnya fundraising itu kalau semakin banyak orangnya semakin- pokoknya semakin rame itu gak menjamin uangnya banyak gitu ya saya sih sekarang lebih banyak fundraising fundraising yang mungkin 10 orang maksimal gitu kan tapi disitu lebih banyak. Pernah juga kita fundraising minus, pernah. Minus? Itu gimana ceritanya tuh? / Minus sama Sis Dini kita fundraising di Semarang, kita kan fundraising sampai ke luar luar kota, ternyata dari- padahal udah ada tuh

orang-orang yang udah kita jajakin yang siap untuk nyumbang, tapi on the spot ternyata mereka masih melintir melintir, jadi “Ah entar deh, ntar kita di forum yang lebih privat aja” blablabla akhirnya dari ongkos penyelenggaraan dengan pendapatan minus, Sis Dini yang nombokin karena dia waktu itu yang koordinir disana, jadi ya orang-orang tadinya udah kita harapkan bisa ternyata enggak kan, akhirnya jadi Sis Dini yang nombokin, di Semarang waktu itu. Jadi semua pendaan itu dari fundraising? Gak ada dari pengusaha mana gitu ngasih uang? Tapi gini, saya ingin mengedukasi publik juga nih, untuk fundraising itu kan bisa dari mana aja ya kalau saya nerima, ini kan namanya Slatan Coffee yah? Kalo saya nerima fundraising, nerima donasi dari Slatan Coffee boleh gak? Boleh / Boleh yah / Boleh kalau saya nerima donasi dari apa misalnya merek minuman ini boleh gak? / Boleh boleh aja / Yang gak boleh itu apa? Yang gak boleh kalau misalnya Slatan Coffee minta, “Nanti yah tolong perjuangkan regulasi-“ misalnya kan kita berjuang regulasi dulu atau minta proyek, salah, atau perjuangkan regulasi yang menguntungkan dia sendiri

misalnya “Tolong untuk pajak café café kecil kayak gini ditiadakan” misalnya, baru salah kan itu? Karena terjadi transaksi disitu kan? / Iya, karena terjadi transaksi karena dia misalnya ya meminta kita memperjuangkan sesuatu yang hanya untuk kepentingannya sendiri Tapi misalnya dia, “Perjuangkan dong supaya kualitas penegakkan hukum kita makin baik, gaji-gaji hakim diperbaiki” misalnya dan segala macem ya misalnya, itu bagus gak? Boleh gak? / Bagus, ya boleh / Boleh kan Jadi yang perlu- pertama nih yang perlu saya klarifikasi, gosip-gosip itu gak bener, pakai logika aja seandainya PSI ini punya donatur besar nih yang katanya 9 naga lah, apa segala macem itu seandainya ada, kok sampai dengan hari ini nih kita kan berjuang udah 4 tahun yah, PSI itu banyak bergeraknya di media sosial kita tuh baru punya itu kan baru sekarang ini, setelah fundraising sekian lama, udah kita kumpul-kumpulin, lobby sana sini akhirnya kita punya budget untuk mulai beriklan nih, yang tadi kamu tanyain diawal itu kan. Sebelumnya kan enggak, dan bahkan dikenalan PSI baru 30%, kalo iya yang donatur PSI itu adalah 9 naga lah ini dan itu kan berarti duitnya banyak, berarti harusnya udah dari kapan-kapan kita dikenal dong, karena logikanya kita akan punya banyak atribut

kita mungkin udah dari 2 tahun lalu mars kita tuh berulang-ulang di televisi sehingga anak kecil pun hafal gitu kan? Kalo itu yang sebelah, itu yang sebelah. Itu partai baru juga tapi yang sebelah. Nah logikanya gitu dong, iya gak? Memang bikin partai itu iseng-iseng? Kita ini udah berjuang 4 tahun lebih bener-bener dari nol, dari nothing, dari orang yang gak ada, sampai kita satu demi satu, pengurus juga kita rekrut semua yang baru mereka gak digaji, kemudian kantor-kantor tuh pake rumah-rumahnya temen-temen pengurus jadi dari awal tuh kita udah mulai buat crowdsourcing, crowdfunding sebenarnya kontribusi, dan sampai sekarang sebenarnya kalau mau ngomong ideal banyak nih caleg-caleg kita yang berjuang itu dengan tanpa modal besar yah gitu kan itu kan tidak terjadi kalau dibilang betul ada tadi itu nama-nama yang disebutkan kan 9 naga kek, 9 apapun gitu dan sebagainya, kan gak terjadi. Satu klarifikasi itu dulu, jadi orang tuh kadang gampang banget dengan logika cocoklogi, mentang-mentang ketuanya model begini lalu pasti 9 naga, cocoklogi, dan masalahnya publik kita tuh kadang dengan- Padahal yang ketuanya modelnya kayak gini juga ada lagi disebelah ys

Nah itu dia, kenapa yang itu gak kena ya? Kenapa yang ini aja? / Karena yang satu itu kan jelas duitnya dari mana soalnya Oh duit sendiri, oke / Terus, terus, terus? Oke terus? / Iya itu tuh, orang tuh publik tuh kadang nih asal cocok gitu yah ini dengan ini- kadang untung ngarang cerita pun lawan banyak bener, asal ini, ini, ini, ini cocok oh pasti ini gitu kan, satu itu gak bener. Kedua, tadi itu yah yang saya ingin edukasi juga, seandainya, seandainya ada tadi yah Slatan Coffee lalu yang punya air ini, yang punya merek kamera itu misalnya nyumbang, tapi mereka nitipinnya aspirasi “Tolong buat Indonesia lebih baik,” “Tolong agar aturan perpajakan itu dibuat lebih baik, tolong agar kualitas penegakkan hukum lebih baik” gitu ya, bagus gak? Ya gak ada salahnya / Gak ada salahnya kan? iya kan. Jadi yang sebenarnya harus kita jaga itu adalah bukan siapa yang donasi, karena siapapun boleh mendukung siapapun iya gak? Yang harus dijagain adalah, kan satu sumber dana kan ada ini yah, tanda tangan iya kan kalo donatur itu bukan dari money laundering dan sebagainya, itu kan clear, itu kan kita jalankan prosedur itu yang lebih penting lagi adalah, yang donasi yang orang takut gak ada- no free lunch gitu kan

takutnya mereka nitip regulasi macem-macem, atau minta proyek macem-macem, nah itu yang harus kita jagain. Nah untuk menjagai itu, makannya PSI kita ini buat Sistem, supaya apa yang kita kerjakan menjadi transparan, mulai dari perekrutan caleg kan gak ada satu pun partai membuat perekrutan calegnya transparan, cuma PSI aja setau saya kita buat panel juri independen, kemudian proses seleksinya kita buka di medsos udah kepilih sekali pun lolos dari juri, kita buat challenge, mereka ngumpulin video-video dukungan di medsos supaya makin clear nih kalau ada orang yang mau komplain, “Oh ini suka gebukin istrinya” misalnya “Oh ini hutang gak bayar” “Ini bisnis gak jujur” ada yang lapor di media sosial, kita buat transparan termasuk nanti pas mereka udah menjabat kalo terpilih nih masuk DPR kan kita udah buat mekanisme pelaporan ke publik setiap hari, jadi kamu memperjuangkan apa? Apa standing positionnya terhadap isu-isu ini? Harus semua diumumkan ke publik jadi disitu kalau tiba-tiba gara-gara misalnya dititipin nama café ini ya, “Tolong pajak café kecil ditiadakan ya” misalkan ya tau tau tiba-tiba ada cara PSI yang mau memperjuangkan UU yang aneh-aneh nih, kan itu jadi pertanyaan

karena semuanya harus dibuka kepublik gitu. Nah jadi sistem untuk ngejaga soal siapa yang donasi kalau pengusaha rumah makan kek, yang punya warung, yang punya kopi, yang punya susu, yang punya chicken alfredo kan boleh-boleh aja, yang gak boleh itu adalah kalau mereka kemudian minta yang aneh-aneh dibelakang yang merugikan orang lain, tapi kalau yang diminta “Ah bu pengen Indonesia lebih baik, tolong perangi intoleransi” boleh dong gitu. Karena memang pendanaan partai itu kan sendiri di Indonesia kan sudah apa ya? Sudah terjadi bertahun tahun dan juga kalau ditanya setiap partai pendanaannya dari mana, gua yakin juga banyak yang jawab gagigu-gagigu juga sih. Nah sekarang nih setelah saya ngejalanin sendiri yah, ternyata banyak hal terkait fundraising. Pertama, karena politik kita itu terkesan begitu serem, orang biasa sekalipun yang nyumbangnya itu cuma sejuta, 4 juta, takut gitu jadi kita ini PR banget nih, udah dapet donasi, meyakinkan orangnya untuk KTPnya boleh kita minta, itu takut. Ada berbagai macam alasan orang takut yah, pertama masih ada aja yang takut PKI, ada yang pernah bilang gini “Sis Grace sorry, saya bukannya gak mau ngasih KTP. Sebenarnya saya mau, tapi belajar dari pengalaman dulu

PKI itu dulu partai besar loh katanya gitu, tapi kenapa ketika rezim berubah lalu dinyatakan terlarang, bisa hilang dalam waktu singkat dan anggota-anggotanya mulai ditangkepin, karena katanya zaman dulu PKI itu pembukuannya rapi banget” katanya gitu. Jadi begitu rezim berubah, langsung nih bukunya langsung diambil, bahaya, gimana kalau rezim berubah? Saya cuma donasi biasa aja, padahal cuma donasi kecil ya ampun, itu ketakutan kayak gitu, ada yang kayak gitu. Ada juga misalnya dia level menengah gitu ya, punya usaha rumah makan, café, tapi takut entar kalau kebuka terus saya nyumbang PSI kan teman saya ada yang dari partai lain dia kan ikut misalkan organisasi Hipmi dan sebagainya, nanti kalau yang lain minta gimana? Repot dong saya, ada yang kayak gitu. Jadi bener-bener ada problem nih kadang nyumbang 4 juta aja, salah satunya- ya gak usah disebut lah ya namanya, nyumbang 4 juta nyumbang 20 juta dari orang yang profesional, dan saya yakin NPWPnya pasti nutupin untuk itu gitu ya dia gak mau, karena takutnya kalau dia perusahaannya Tbk, apalagi dan dia CEO dan kita punya penyumbang seperti itu takut, nanti kalau ketahuan seolah-olah perusahaan saya yang nyumbang

padahal kan saya punya owner, punya pemegang saham, punya share holder kalau seolah-olah perusahaan ini pro ke partai tertentu kan bahaya, jadi macam-macam sih makannya umm… tapi kalau untuk orang mau nyumbang, orang tuh mau asal kita bisa menjelaskan clear apa yang kita perjuangkan, apalagi sekarang-sekarang ini, orang bisa nyumbang apapun kok kalau kita sih terima sumbangan apapun, terima sumbangan kaos juga terima gitu kan jangan merasa harus bentuknya uang gitu ya. Kemarin nih, tuh tanya Sis, kita kan baru terima sumbangan yah? Ada yang nyumbang kaos banyak banget sampai gak ketampung di gudang kantor sampai harus dipindahin lokasinya kita pinjem tempat orang karena banyak banget, dan itu kita cuma ngasih file aja “Tolong bantu kita cari dong, kita butuh kaos” gitu, jadi bisa apa aja. Oke terakhir, kan kalau setiap partai-partai politik lain tuh sudah punya basis mereka bisa mapping gitu yah “Wah kita punya basis massa yang tradisional di daerah A B C dan D” gitu kan segala macem.

Nah yang gua belum pernah dapet jawabannya dari PSI adalah, PSI jadi ini kira-kira nih kira-kira kantong-kantong kuota tuh ada dimana aja sih di Indonesia? Karena kalau buat gua gua berasumsi nih ya, gua berasumsi di daerah urban, bener gak? Bener, umm… karena kan memang kita bergeraknya banyak di medsos nih, dan yang punya sambungan cukup baik itu kan lebih ada di urban yah di kota gitu kan, sebenarnya di rural juga ada tapi tergantung dari pergerakan calegnya gitu disitu, jadi misalnya Sis Dara, pernah kan kesini juga? Dara kan dapilnya tuh desa-desa, itu disitu banyak masih pakai- no handphon nokia pisang jadi mereka pasti tidak tau medsos PSI, tapi ketika digarap bisa. Guntur Romli misalnya Tapal Kuda, disitu juga orang jarang ngikutin twitternya GunRom dan sebagainya jadi memang pendekatan harus beda, tapi kalau mau ditarik umum, memang lebih dikalangan yang lebih terdidik dan di urban gitu, ya karena kalau kita tadi, kalo tadi nih masuk lagi ke konspirasi 9 naga itu kalau duit PSI gak terbatas, itu kita banjirin aja itu daerah-daerah rural dengan atribut gitu kan

tapi kan tidak demikian gitu, kita memang dari awal bergeraknya kebanyakan di medsos karena medsos itu murah gitu kan, dan memang tapi akibat daripada itu yang lebih yang menjadi orang-orang yang melihat konten-konten kita adanya lebih banyak yang di kota atau suburban yang lebih terdidik minimum SMA, yang lebih banyak dan bisa mengerti apa yang kita perjuangkan gitu kan. Tapi kan jumlahnya banyak yang hidup di kota, hidup di desa itu fifty-fifty kok, gitu kan. Dan kalau mau ngomong soal basis massa, yang dibilang punya partai ID itu paling sekitar 12% itu udah ketahuan ya partainya apa kira-kira, yang lain tuh floating gitu kan, pindah-pindah mungkin bro sendiri pemilu, pernah ikut berapa kali pemilu? Udah dari tahun 2004, udah satu dua tiga, empat, ini yang keempat. Oh iya ini yang ke empat ya? Mungkin ganti-ganti partai terus gitu kan? Mungkin? / Enggak sih kalo gua sih enggak / Enggak yah? Kalau gua sih dari zaman... kayaknya gua pernah paling engga ganti-ganti 3 apa 4 partai / Oh iya? / iya gitu kan, dan banyak yang kayak gitu.

Jadi 4% nih ya? Dapet? / Tembus / Tembus, tuh ketumnya udah ngomong nih, 4% tembus, tuh kan. Kita kerja tiap hari, pokoknya kami kerjakan bagian kami, ya selebihnya kita serahkan kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa tapi yang pasti PSI tidak akan takut untuk menyuarakan apa yang benar, kita harus edukasi publik jangan di entertain kelompok intoleran ini growing in numbers jangan di entertain jangan takut dengan kata-kata apa ya? Melawan yang lebih banyak dan sebagainya kita harus mulai mengedukasi publik kita, itu baru namanya nasionalis kalo just go with the flow, ikutin aja arus gitu ya, itu gaje tuh gaje. Apa tuh? / Gak jelas / Oh gak jelas Oke! Thank you Sis Grace ketum PSI Grace Natalie, Pangeran, Mingguan.

चैप्टर

  1. 00:00परिचय
  2. 04:20Yang, Perda, Kita
  3. 08:39Yang, Kita, Gitu
  4. 12:54Yang, Kita, Gitu
  5. 17:11Yang, Kita, Dari
  6. 21:27Yang, Kita, Dari
  7. 25:45Yang, Kita, Kalau
  8. 30:07Yang, Kita, Gitu

टैग

asumsi pangeranasumsi pangeran siahaanasumsi imanlagiasumsiasumsi ahokpolitikindonesiapolitik indonesiapangeimansjafeiimanlagigrace nataliebreaking newspartai solidaritas indonesiapartai solidaritas indonesia iklanpartai solidaritas indonesia tsamaraberita satuberita terbaruasumsi pangeran mingguanasumsi pangeran mingguan blak blakan soal pssiasumsi pangeran gustika

कमेंट

कमेंट अभी लोड नहीं हुए हैं।

← टूल पर वापस