
BREAKING NEWS: KEJAKSAAN AGUNG TANGKAP DIRUT SRITEX ‼️ - Rinny Budoyo (Hot Topic #446)
yangbankinikasusmiliarkreditkorupsijadibjbdandariada
أرقام عدم الإعجاب تقديرية من مشروع Return YouTube Dislike، لأن يوتيوب لم يعد ينشرها. returnyoutubedislike.com
Ada perkembangan menarik soal pabrik tekstil Srtech di Solo. Perusahaan raksasa yang berakhir bangkrut itu, yang berakhir pilot itu, dia sekarang masuk ke babak baru. Sebuah drama baru di Kejaksaan Agung. Sebuah drama korupsi. Dan bisa jadi ada kemungkinan kasus korupsi raksasa ini bakal menyeret-nyeret juga keluarga raja Jawa di Solo. Ini bisa jadi bakal jadi skandal yang besar sekali. Cerita soal drama korupsi di Stretech ini mungkin
bisa kita mulai di Bandung, bukan di Solo, tapi di Bandung. Yakni di Bank BJB yang berpusat di Bandung. Bank ini juga tersangkut kasus korupsi. Kalian pasti sudah tahu kasusnya, yakni korupsi belanja iklan yang mencapai sekitar 200 miliar yang kemungkinan juga bakal menyeret mantan Gubernur Jawa Barat, Kang Ritwan Kamil. Di kasus ini, mantan direktur utama Bank BJB yakni Pak Yudi Renaldi, dia sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK,
oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Tapi rupanya, rupa-rupanya kasus korupsi yang menyeret nama Yudi Renaldi ini bukan cuma kasus korupsi dana iklan yang dijadikan dana taktis tersebut. Disebut-sebut Bank BJB di bawah kepemimpinan Pak Yudi juga tersangkut kasus pemberian kredit Jumbo ke Strchek senilai sekitar 600 miliar dan ini berakhir macet karena pabrik tekstil tersebut sekarang pilit. Nah, yang sekarang sedang
diselidiki oleh Kejaksaan Agung adalah kasus korupsi Bank BJB dalam pemberian kredit raksasa kepada Srittek. [Musik] Jadi kasus korupsi Bank BJB ini sekarang ada dua. Satu, kasus dana iklan senilai sekitar R miliar yang ditangani oleh KPK. Yang kedua, kasus kredit Srittek senilai sekitar 600 miliar yang ditangani sama Kejaksaan Agung. Bisa jadi ini menimbulkan tanda tanya juga. Mengapa kasus-kasus korupsi Bank BJB
ditangani sama dua lembaga berbeda? Kenapa kasus korupsi kredit Srtech ditangani sama Kejaksaan Agung dan bukan KPK? Soal ini jangan khawatir, kita bakal bahas sesudah kita bedah inti dari kasus korupsinya dulu. Jadi kita tahu dari pemberitaan bahwa Kejaksaan Agung sekarang ini sudah memanggil manajer accounting Srich yakni Yfta Bagus Setiawan sebagai saksi dalam kasus korupsi ini. Kejaksaan Agung sedang menyelidiki kucuran kredit dari banyak
bank kepada SRIK. Ada kucuran kredit dari Bank BJB, Bank Jateng, dan juga Bank DKI. Pertanyaannya, mengapa bank-bank itu berani mengucurkan kredit dalam jumlah besar? Padahal Strek dalam kondisi yang tidak bagus. Padahal Stretek sudah menuju kondisi bangkrut. Ada apa dengan kucuran kredit dari bank-bank plat merah tersebut? Mengapa mereka begitu gegabah dalam mengucurkan kredit? Kenapa STEK jadi
begitu menarik di mata bank-bank tersebut? Apakah ini disebabkan karena berada di Solo? Apakah ini disebabkan karena punya kedekatan hubungan dengan penguasa negeri ini ketika itu? Dan yang menarik dalam kasus ini, yang bikin curiga dalam kasus ini, rupanya ada selisih angka yang cukup besar di antara kredit yang dicatat oleh bank dan yang diakui sama Srich. Buat Bank BJB misalnya menurut catatan bank
yang sudah diaudit sama BPK Badan Pemeriksa Keuangan, besar kredit yang dikucurkan sebesar sekitar 670 miliar. Nah, masalahnya di pembukuan Srteek, di laporan keuangan Srich, besar kredit dari Bank BJB cuma tercatat sebesar sekitar 593 miliar. Jadi ada selisih yang besar yakni sebesar 77 miliar di antara pencatatan di bank BJB dan di Sitek. Sementara itu buat Bank Jateng menurut pencatatan bank kredit SRITEK senilai
sekitar R00 miliar. Sementara itu, menurut catatan SRITEK sendiri besar utang mereka cuma 430 miliar. Jadi di sini juga ada selisih yang cukup besar yakni sekitar Rp70 miliar. Buat Bank DKI, kredit yang diberikan menurut catatan bank sebesar 185 miliar. Tapi di pembukuan STEK besarnya cuma 162 miliar. Jadi di sini ada selisih 23
miliar. Nah, pertanyaannya sekarang pertanyaan para penyidik Kejaksaan Agung. Kenapa ada selisih yang cukup besar antara 11 sampai 14% dalam pencatatan bank-bank dan SRITEK? Mengapa uang yang diterima oleh Srk yang diakui sudah diterima oleh Srk? Mengapa jumlahnya lebih sedikit dibandingkan yang sudah dikucurkan oleh bank-bank? Pertanyaan lanjutannya, ke mana selisih uang yang besar ini yang totalnya mencapai 170
miliar? Ke mana selisih uang ini mengalir? Adakah pihak ketiga? Adakah orang kuat yang minta bagian dari kucuran kredit ini? Siapa kira-kira orangnya? Nah, yang bikin kasus ini tambah menarik lagi pertanyaannya apakah mantan Dirut Bank BJB Pak Yudi Renaldi, apakah dia bisa dan sudah menjelaskan ke mana, kepada siapa selisih uang dari bank BJB itu mengalir? Untuk apa uang selisih itu mengalir?
Siapa pihak yang begitu berkuasa sehingga bisa minta jatah sampai sebesar 77 miliar? Apakah Pak Yudi Renaldi sudah bernyanyi? Nah, di sinilah muncul des SAS The Sus-nya. Ini baru The Sasus loh ya. Jadi sekarang muncul The Sasus. Kalau dana selisih pembayaran yang mencapai 170 miliar itu adalah jatah yang mengalir ke seorang pangeran yang mengalir ke putra dari raja Solo. Makanya, makanya nih kalau kasusnya
seperti ini, kita jadi bisa mengerti kenapa kasus RECH ini ditangani sama Kejaksaan Agung bukannya KPK. Kita tahu kalau Kejaksaan Agung lebih bebas dari cawe-cawe kerajaan Solo dibandingkan dengan KPK. Oke, itu saja pembahasan kita soal kasus korupsi Srtech dan bank-bank plat merah yang sedang ditangani sama Kejaksaan Agung. Kita tunggu saja ke mana kasus ini bakal mengarah. Apakah benar bakal menjerat kerajaan Solo? Apakah benar kasus ini
bisa digunakan buat menyetop cawe-cawe dari kerajaan Solo selama ini yang bikin kisruh politik nasional? Nah, gimana nih kalau menurut kalian? Tulis ya komen dan analisa kritis kalian di kolom [Musik] komentar. He. [Musik]
التعليقات
لم تُحمَّل التعليقات بعد.